Menakar Risiko Fiskal di Balik Ambisi Transisi Energi dan Ketahanan Pangan Nasional
Sektor Energi
- Harga komoditas energi global naik tajam, dengan Brent USD91,08/bbl (+34,19% YoY) dan gas Eropa USD21,11/MMBtu (+89,33% YoY), dipicu risiko geopolitik AS-Iran dan ketegangan Timur Tengah.
- Alokasi subsidi energi terus membengkak, dari Rp125,3 T (2020) menjadi Rp272,9 T pada RAPBN 2027, dengan pola over/under budgeting berulang yang mencerminkan lemahnya akurasi proyeksi.
- Beban kompensasi energi semester I/2026 melonjak 70% (YoY) ke Rp116,9 T (tertinggi sejak 2022); ditambah subsidi energi, realisasinya mencapai Rp233 T atau 52,1% pagu APBN 2026.
- Distribusi subsidi Pertalite bersifat regresif: dua desil teratas (9 dan 10) menyerap 45,5% dari total subsidi, menegaskan urgensi reformasi skema penyaluran berbasis DTSEN.
- Beban pembelian listrik PLN naik 9,3% (YoY) menjadi Rp195,21 T, berisiko membengkak lebih jauh.
- Program PLTS 100 GWp baru mencapai 0,02% realisasi operasional beberapa hari pasca-peluncuran.
- Substitusi LPG ke CNG masih jauh dari siap: kapasitas CNG terdaftar baru 8,7% dari kebutuhan gas nasional (965 juta kaki kubik/hari), dengan 3 dari 6 wilayah rencana induk belum memiliki fasilitas.
Sektor Pangan
- Tekanan ketahanan pangan meningkat ditandai dengan kenaikan harga pangan global, terutama gula (+11,76% MoM), gandum (+42,80% YoY), dan beras (+23,14% YoY).
- Tekanan domestik menguat, dengan inflasi volatile food mencapai 4,06% pada Agustus 2026 didorong lonjakan cabai rawit (+45,68% YoY) dan daging ayam (+16,90% YoY).
- Perunggasan menghadapi persoalan struktural berupa surplus pasokan, lemahnya posisi tawar peternak, disparitas harga, dan disparitas distribusi sehingga perlu dilakukan pembenahan tata kelola rantai pasok.
- Risiko krisis pangan global semakin menguat melalui lima kanal, yaitu War, Weather, Warehousing, Water, dan Waste yang berpotensi mendorong inflasi pangan global hingga 5%.
- Ketergantungan bahan baku NPK impor menjadi titik kerentanan, terutama ketika konflik geopolitik mengganggu jalur perdagangan pupuk dan meningkatkan biaya produksi.
- Pascaswasembada beras, tantangan bergeser dari produksi ke penciptaan exportable surplus yang konsisten, bernilai tambah, dan memiliki pasar berkelanjutan.
- Kenaikan anggaran ketahanan pangan hingga Rp195,3 triliun pada 2027 perlu diarahkan pada efektivitas, bukan sekadar ekspansi, dengan fokus pada produktivitas, input, distribusi, pendapatan petani, dan stabilitas harga.