Monitoring Issue of Food, Energy and Sustainable Development – Juli 2026

Krisis Pasokan Energi dan Tekanan Harga Pangan

Sektor Energi

  • Harga komoditas energi global melanjutkan tren kenaikan tahunan: tembaga LME naik 38,04% (yoy) didorong permintaan data center AI dan kendaraan listrik, gas alam Eropa naik 22,58% (yoy), sementara nikel LME terkoreksi -6,1% (mom) seiring pelonggaran kuota RKAB.
  • Pemadaman listrik bergilir di Jawa-Madura-Bali dipicu gangguan teknis pada dua PLTU IPP besar, namun akar masalahnya adalah pemangkasan kuota RKAB batu bara (dari 790 menjadi 600 juta ton) dan defisit pasokan sekitar 20 juta ton terhadap total kebutuhan PLN 154 juta ton. Disparitas harga DMO ($70) vs harga ekspor ($140) membuat produsen lebih memilih ekspor meski harus membayar denda.
  • Kenaikan harga Pertamax hingga 32% (menjadi Rp16.250/liter) belum menutup selisih terhadap harga keekonomian (masih ada gap Rp3.570/liter yang ditanggung Badan Usaha).

Sektor Pangan

  • Indeks Harga Pangan FAO naik ke level 112 pada Juni 2026; harga beras dunia mencapai USD 479/mt (+10,11% mom, +17,40% yoy), mencerminkan pasar beras global yang makin ketat, dengan proyeksi penurunan produksi di India (-3,6%) dan Thailand (-6,4%).
  • Inflasi volatile food domestik tetap tinggi di 5,58% (yoy) pada Juni meski masa libur sekolah menekan penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dimana hal ini mengindikasikan faktor pasokan lebih dominan dibanding permintaan.
  • Harga telur ayam justru turun 5,9% akibat over-supply nasional yang belum terserap optimal oleh MBG maupun distribusi antar wilayah, dengan disparitas harga antar provinsi mencapai Rp23.850/kg.
  • Realisasi pengadaan beras Bulog mencapai 3,24 juta ton (81% dari target 4 juta ton sesuai Inpres 4/2026) per akhir Juni dengan capaian penyerapan Semester I tertinggi, namun tetap menyisakan tantangan pengelolaan stok dan distribusi ke daerah defisit.

Hari & Tanggal

Waktu

Live

Bagikan

Penulis

  • Abra Talattov

    Abra Talattov merupakan ekonom muda di INDEF yang bergabung sejak tahun 2011. Ia menyelesaikan studi Sarjana Ekonomi di Universitas Diponegoro, Semarang, dan meraih gelar Master of Science dari University of Malaysia Terengganu. Di luar aktivitas riset, Abra pernah menjabat sebagai Manajer Pilar Pembangunan Ekonomi di Sekretariat SDGs Provinsi DKI Jakarta, serta menjadi Tenaga Ahli di DPR RI yang mengawal berbagai isu strategis di Komisi VI dan Badan Anggaran. Saat ini, ia ditugaskan memimpin Center of Food, Energy, and Sustainable Development (FESD) INDEF.

Annisa Utami Kusumanegara
Afaqa Hudaya
Aisyah Nur’aeni
Lutfi Shofi Rahmawati
Yusuf Taqy

Publikasi Terkait