Monitoring Issue of Food, Energy and Sustainable Development – Agustus 2026

Menjaga Stabilitas di Tengah Tekanan: Tantangan Pangan, Energi, dan Keberlanjutan

Sektor Energi

  • Tekanan energi global dan domestik semakin memberi tekanan terhadap fiskal dan daya saing industri. Harga minyak mentah jenis Brent pada Juli 2026 mencapai US$83,2/barel (+17,40% YoY), sementara harga gas alam Eropa meningkat 55,42% YoY akibat gangguan pasokan LNG global. Di domestik, pasokan gas untuk industri terus menurun dari 479 BBTUD pada 2024 menjadi 327 BBTUD pada 2026, mendorong peningkatan penggunaan LNG yang memiliki rantai pasok lebih kompleks dan biaya lebih tinggi.
  • Tekanan tersebut semakin berat karena kebutuhan fiskal untuk menjaga stabilitas harga energi meningkat. Realisasi subsidi dan kompensasi energi Semester I 2026 mencapai Rp233 triliun atau 52,1% dari pagu, meningkat 44,4% YoY. Kenaikan tidak hanya dipengaruhi oleh harga energi global dan nilai tukar, tetapi juga disebabkan oleh meningkatnya volume penyaluran energi bersubsidi.
  • Persoalan energi tidak lagi sebatas harga tetapi menyangkut ketahanan pasokan, keandalan sistem, dan efisiensi fiskal secara bersamaan. Penurunan pasokan gas dan meningkatnya kebutuhan subsidi menunjukkan bahwa stabilisasi harga melalui intervensi pemerintah memiliki biaya yang semakin besar. Di sisi lain, migrasi konsumen ke BBM bersubsidi, dengan pangsa Pertalite meningkat dari 75,4% menjadi 80,3%, sementara konsumen Pertamax turun dari 23,2% menjadi 18,8% yang mengindikasikan bahwa perbedaan harga semakin memengaruhi perilaku konsumsi.

Sektor Pangan

  • Inflasi pangan mulai mereda, tetapi normalisasi harga belum merata dan fundamental produksi masih rapuh. Inflasi volatile food turun tajam dari 5,58% pada Juni menjadi 2,52% pada Juli 2026, terutama akibat koreksi harga komoditas hortikultura. Namun, sejumlah komoditas masih mencatat tekanan harga tinggi, seperti daging ayam (+10,97% YoY), daging sapi (+7,67%), dan minyak goreng (+9,29%).
  • Penguatan cadangan beras memperbesar ruang stabilisasi, tetapi tidak otomatis menjamin stabilitas harga. CBP meningkat menjadi 5,40 juta ton pada Juli 2026, bertambah 1,87 juta ton atau 52,97% sejak Februari. Namun, inflasi beras justru sempat mencapai 4,55% pada Mei 2026 ketika akumulasi cadangan terus berlangsung. Hal ini menunjukkan adanya time lag antara penguatan stok pemerintah dan transmisi kebijakan ke pasar konsumen.
  • Risiko yang lebih mendasar justru muncul dari sisi produksi. Pada Q2 2026, sektor pertanian hanya tumbuh 3,80%, tertinggal dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%. Di dalamnya terdapat ketimpangan yang tajam, yaitu peternakan tumbuh 11,57% dan hortikultura 6,51%, tetapi tanaman pangan justru mengalami kontraksi 4,32% YoY. Kontraksi tanaman pangan menjadi titik kritis karena terjadi ketika inflasi beras masih 3,10% pada Juli 2026 sehingga penurunan tekanan harga belum sepenuhnya mencerminkan penguatan fundamental pasokan.

Hari & Tanggal

Waktu

Live

Bagikan

Penulis

  • Abra Talattov

    Abra Talattov merupakan ekonom muda di INDEF yang bergabung sejak tahun 2011. Ia menyelesaikan studi Sarjana Ekonomi di Universitas Diponegoro, Semarang, dan meraih gelar Master of Science dari University of Malaysia Terengganu. Di luar aktivitas riset, Abra pernah menjabat sebagai Manajer Pilar Pembangunan Ekonomi di Sekretariat SDGs Provinsi DKI Jakarta, serta menjadi Tenaga Ahli di DPR RI yang mengawal berbagai isu strategis di Komisi VI dan Badan Anggaran. Saat ini, ia ditugaskan memimpin Center of Food, Energy, and Sustainable Development (FESD) INDEF.

Annisa Utami Kusumanegara
Afaqa Hudaya
Aisyah Nur’aeni
Zulianissa Diah Kusmawati
Noval Fauzan

Publikasi Terkait