Monitoring Issue of Macroeconomics & Finance – Juli 2026

Stabilitas Semu, Fiskal Rapuh

Ketidakpastian kebijakan di Indonesia meningkat sejak 2024 dan terus berlanjut hingga 2026. Sepanjang Januari–Juli 2026, berbagai kebijakan dan peristiwa penting, termasuk perubahan outlook peringkat kredit oleh Moody’s dan Fitch dari stabil menjadi negatif, turut meningkatkan persepsi risiko investor terhadap aset domestik. Meskipun status investment grade Indonesia tetap terjaga, meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko fiskal menjadikan konsistensi, transparansi, dan kepastian implementasi kebijakan sebagai faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor dan stabilitas pasar keuangan.

Dari sisi moneter, tekanan arus keluar modal asing dan pelemahan rupiah mendorong Bank Indonesia mempertahankan BI Rate pada level 5,75% untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan daya tarik aset domestik. Kebijakan ini meningkatkan yield SBN dan SRBI, sementara tingginya imbal hasil SRBI berhasil menarik kembali aliran modal asing jangka pendek. Namun, ketergantungan pada dana jangka pendek tersebut meningkatkan kerentanan pasar terhadap perubahan sentimen global dan arah kebijakan moneter The Fed.

Pada aspek fiskal, penerimaan negara masih bertumpu pada penerimaan perpajakan, sementara tax ratio Indonesia cenderung stagnan pada kisaran 9-10% terhadap PDB. Upaya memperluas basis pajak perlu diimbangi dengan penguatan kepatuhan dan administrasi perpajakan untuk mempersempit tax gap. Di sisi lain, meningkatnya belanja pemerintah pusat, melemahnya transfer ke daerah, serta akselerasi pembiayaan utang menunjukkan bahwa ruang fiskal semakin terbatas dan efektivitas belanja negara menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.

Hari & Tanggal

Waktu

Live

Bagikan

Penulis

Sia Nawir
M. Syamil Iklil Abd Barr
Noval Fauzan
Zulianissa Diah Kusmawati

Publikasi Terkait