Monitoring Issue of Food, Energy and Sustainable Development – Mei 2026

Menguji Retorika Swasembada Pangan di Tengah Tekanan Harga Energi Global

Konflik geopolitik AS–Israel versus Iran sepanjang awal 2026 memicu tekanan besar pada sektor energi global. Harga minyak Brent melampaui USD 114 per barel, sementara harga gas dan komoditas energi melonjak akibat gangguan distribusi di Selat Hormuz dan ekspor LNG Timur Tengah. Dampaknya, harga BBM non-subsidi, LPG, dan avtur domestik mengalami kenaikan tertinggi dalam enam tahun terakhir sehingga meningkatkan tekanan inflasi berbasis biaya, memperbesar perpindahan konsumsi ke energi bersubsidi, serta menekan sektor transportasi, logistik, dan UMKM. Di tengah tekanan tersebut, Indonesia dinilai memiliki ketahanan energi yang relatif kuat karena ditopang dominasi batubara domestik dan posisi sebagai net eksportir gas alam. Pemerintah juga mempercepat implementasi biodiesel B50 untuk mengurangi impor energi dan menghemat devisa, meskipun tetap berisiko meningkatkan beban subsidi dan tekanan fiskal.

Di sektor pangan, capaian rekor produksi padi 2025 belum sepenuhnya menjamin ketahanan pangan berkelanjutan. Proyeksi panen 2026 menunjukkan perlambatan, sementara ancaman El Niño meningkatkan risiko gagal panen dan gangguan produksi nasional. Tekanan pangan global juga meningkat akibat kenaikan harga pupuk, gandum, jagung, dan minyak sawit yang dipicu konflik geopolitik serta gangguan iklim. Implementasi B50 dan peningkatan ekspor sawit turut memperbesar kompetisi penggunaan CPO antara kebutuhan pangan, energi, dan ekspor. Tanpa penguatan distribusi pangan, reformasi subsidi, dan peningkatan produktivitas pertanian, tekanan global berpotensi berkembang menjadi ancamanstruktural bagi stabilitas ekonomi nasional.

Hari & Tanggal

Waktu

Live

Bagikan

Penulis

  • Abra Talattov

    Abra Talattov merupakan ekonom muda di INDEF yang bergabung sejak tahun 2011. Ia menyelesaikan studi Sarjana Ekonomi di Universitas Diponegoro, Semarang, dan meraih gelar Master of Science dari University of Malaysia Terengganu. Di luar aktivitas riset, Abra pernah menjabat sebagai Manajer Pilar Pembangunan Ekonomi di Sekretariat SDGs Provinsi DKI Jakarta, serta menjadi Tenaga Ahli di DPR RI yang mengawal berbagai isu strategis di Komisi VI dan Badan Anggaran. Saat ini, ia ditugaskan memimpin Center of Food, Energy, and Sustainable Development (FESD) INDEF.

Annisa Utami Kusumanegara
Afaqa Hudaya
Aisyah Nur’aeni
Lutfi Shofi Rahmawati
Yusuf Taqy

Publikasi Terkait