Langsung ke konten

Monitoring Issue of Food, Energy and Sustainable Development – Oktober 2026

Guncangan Global dan Rapuhnya Distribusi Domestik

Sektor Energi

  • Eskalasi geopolitik meningkatkan risiko energi dan fiskal. Pada September 2026, harga Brent mencapai USD 114,2/barel, naik 25,34% secara bulanan, sementara gas alam Eropa melonjak 128,60% secara tahunan. Ketergantungan impor, produksi minyak domestik yang hanya 549 ribu barel per hari dibandingkan konsumsi 1,65 juta barel, serta cadangan BBM sekitar 20 hari memperbesar kerentanan Indonesia. Setiap kenaikan USD 1/barel di atas asumsi APBN berpotensi menambah belanja Rp10,3 triliun.
  • Tekanan merambat ke ketersediaan energi domestik. Kenaikan BBM nonsubsidi mendorong peralihan konsumsi ke BBM subsidi dan memicu antrean disejumlah daerah.
  • Kemarau mengurangi daya PLTA Sulawesi Selatan sekitar 600 MW, disertai gangguan pembangkit di Kalimantan yang memicu pemadaman bergilir. Sementara itu, harga komoditas minerba menguat,tetapi nikel tetap sensitif terhadap revisikuota RKAB.
  • Hilirisasi dan transisi energi membutuhkan kesiapan struktural. ICOMEX berpeluang membangun acuan harga feronikel Indonesia. Namun, implementasi E20 terkendala kesenjangan kebutuhan etanol dan kapasitas produksi fuel grade. Pemerintah perlu memperjelas skema harga, pembagian biaya, serta penerapan mandatori secara bertahap sesuaikapasitas industri.

Sektor Pangan

  • Tekanan pangan global meningkat, dengan FAO Food Price Index riil mencapai 117,2 pada September 2026. Gangguan pasokan Laut Hitam dan lonjakan harga energi mendorong kenaikan harga komoditas,terutama gandum, gula, dan minyak nabati, sehingga meningkatkan risiko tekanan harga di tingkat domestik.
  • Inflasi pangan domestik menguat. Inflasi volatile food mencapai 5,03% (yoy), didorong oleh kenaikan harga cabai rawit sebesar 86,55%dan cabai merah sebesar 20,82%.Harga cabai yang melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) mencerminkan gangguan pasokan dan distribusi antarwilayah yang belum optimal.
  • Ketahanan pasokan beras menghadapi risiko. Potensi produksi September-November 2026 diperkirakan turun 11,95% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025, sementara ancaman El Niño berpotensi mempersempit pasokan. Sekitar 70,4% kabupaten/kota mencatat harga beras premium di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Hal ini mengindikasikan tekanan biaya produksidan penyempitan margin usaha.
  • Ambisi E20 perlu diselaraskan dengan swasembada gula. Pemerintah perlu memprioritaskan peningkatan produktivitas tebu, menghitung neraca gula–bioetanol secara komprehensif, serta mengantisipasi persaingan bahan baku, kenaikan harga pangan, dan risiko deforestasi. Kebijakan harus dirancang agar tidak mengorbankan keterjangkauan pangan dan keberlanjutanlingkungan.

Share

Author

  • Abra Talattov

    Abra Talattov merupakan ekonom muda di INDEF yang bergabung sejak tahun 2011. Ia menyelesaikan studi Sarjana Ekonomi di Universitas Diponegoro, Semarang, dan meraih gelar Master of Science dari University of Malaysia Terengganu. Di luar aktivitas riset, Abra pernah menjabat sebagai Manajer Pilar Pembangunan Ekonomi di Sekretariat SDGs Provinsi DKI Jakarta, serta menjadi Tenaga Ahli di DPR RI yang mengawal berbagai isu strategis di Komisi VI dan Badan Anggaran. Saat ini, ia ditugaskan memimpin Center of Food, Energy, and Sustainable Development (FESD) INDEF.

Annisa Utami Kusumanegara
Afaqa Hudaya
Aisyah Nur’aeni
Noval Fauzan
Zulianissa Diah Kusmawati
Pramudya Putra Bintang

Publikasi Terkait