Center of Digital Economy and SMEs Brief Update – Oktober 2026

Ekonomi Digital dan UMKM dalam 2 Tahun Prabowo-Gibran

  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di kisaran 5% dalam dua tahun terakhir dan bertumpu pada konsumsi masyarakat serta belanja pemerintah. Perbaikan ekonomi perlu diarahkan pada peningkatan permintaan, misalnya melalui pengalihan anggaran MBG dan KDKMP ke sektor produktif serta penurunan PPN, agar daya beli meningkat. Sebab tumbuhnya ekonomi digital juga bertumpu pada daya beli masyarakat.
  • Jumlah UMKM yang terdigitalisasi terus bertambah, tetapi daya saing masih lemah di antaranya karena tingginya biaya platform dan maraknya ancaman siber. Langkah perbaikan yang diperlukan antara lain: peningkatan produktivitas melalui insentif bagi komunitas yang memberikan pendampingan UMKM serta integrasi otomatis antara SAPA UMKM dan marketplace.
  • Pekerja platform berkontribusi besar terhadap perekonomian, tetapi batas komisi 8% belum tentu menjamin kesejahteraan. Oleh karena itu, revisi UU Ketenagakerjaan dan/atau RUU Pekerja Platform perlu menjamin hak-hak dasar pekerja platform serta mengatur layanan pengantaran makanan dan barang secara adil dan transparan.
  • Kredit macet dari fintech peer-to-peer lending meningkat dan pembiayaan produktif menyusut, sementara paylater untuk konsumsi tumbuh cepat. Beberapa langkah perbaikan antara lain: penilaian kredit yang lebih kuat, integrasi penuh antara Pusdafil dan SLIK, insentif pembiayaan produktif bagi UMKM, akselerasi peningkatan literasi keuangan, serta sanksi tegas bagi penyelenggara yang melanggar.
  • Penurunan pendanaan startup, semakin banyak startup yang melakukan Mergers & Acquisitions ketimbang IPO, dan pasar marketplace terkonsentrasi pada dua pemain. Pemerintah harus memberikan kepastian hukum dan kebijakan agar anak usaha BUMN dapat melakukan pendanaan startup serta mempercepat pembahasan revisi UU Antimonopoli.

Hari & Tanggal

Time

Live

Share

Author

  • Izzudin Al Farras Adha

    Izzudin Al Farras Adha adalah peneliti di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), sebuah lembaga think-tank di bidang ekonomi dan keuangan yang berbasis di Jakarta. Saat ini dirinya terlibat di Center of Digital Economy and SMEs, INDEF. Farras meraih gelar MSc in Urban Economic Development dari University College London (UCL), Inggris, dimana ia merupakan penerima Beasiswa LPDP dari Pemerintah Indonesia, dengan tesisnya terkait Inovasi dan Ketimpangan di India pada tingkat lokal dan nasional. Dirinya memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Ilmu Ekonomi Islam dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, dengan skripsi terkait Inflasi Ramadhan di Indonesia pada tingkat regional dan nasional. Dalam pengalaman kerjanya selama 5+ tahun, ia telah melakukan 25+ proyek penelitian di INDEF. Ia bekerja dengan pemerintah, sektor swasta, dan mitra internasional untuk mereformasi kebijakan ekonomi demi kepentingan publik. Farras juga menerima Hibah Penelitian Bank Indonesia pada tahun 2022 bersama timnya di INDEF untuk meneliti kebijakan moneter hijau. Sementara itu, dirinya juga pernah menjabat sebagai konsultan dan staf ahli di beberapa lembaga, seperti Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) serta Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI). Minat penelitiannya mencakup pengembangan ekonomi regional, ekonomi digital, dan Usaha Kecil Menengah (UKM).

  • Nur Komaria
  • Fadhila Maulida
Pidah Febriyanti
Andini Maulidiyah Rachma
Jodhie Marshal Pambudi Sinaga

Publikasi Terkait