Center of Digital Economy and SMEs Brief Update – September 2026

Masih Soal Koperasi Merah Putih

  • Disfungsi Operasional dan Bom Waktu Tata Kelola
    Model pendirian yang supply-driven tanpa validasi pasar menciptakan defisit value proposition yang membuat anggota enggan bertransaksi, sementara modal subsidi mengeliminasi disiplin efisiensi pengurus. Kerapuhan arus kas ini akan menjadi krisis manajerial akibat kesenjangan durasi antara masa kontrak manajer dan tenor utang, menciptakan konflik kepentingan di fase pelunasan.
  • Kanibalisasi Pasar dan Kegagalan Skala Ekonomi
    KDMP tanpa pembagian kewenangan yang jelas berisiko mengalami tumpang tindih dengan BUMDes. Persaingan di segmen yang sama justru memecah pasar, meningkatkan biaya operasional, dan mengurangi skala ekonomi yang ada di ekosistem desa.
  • Double Fiscal Squeeze dan Sandera APBDes
    Kegagalan di tingkat operasional akan bereskalasi menjadi krisis makro akibat pemotongan wajib (earmarking) 58,03% Dana Desa yang dieksekusi tepat di tengah tren penyusutan transfer daerah. Tekanan ganda ini melumpuhkan otonomi desa dalam mendanai pelayanan dasar, serta berisiko menyandera kas daerah apabila kewajiban utang KDMP berubah menjadi unfunded mandate.

Hari & Tanggal

Time

Live

Share

Author

  • Izzudin Al Farras Adha

    Izzudin Al Farras Adha adalah peneliti di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), sebuah lembaga think-tank di bidang ekonomi dan keuangan yang berbasis di Jakarta. Saat ini dirinya terlibat di Center of Digital Economy and SMEs, INDEF. Farras meraih gelar MSc in Urban Economic Development dari University College London (UCL), Inggris, dimana ia merupakan penerima Beasiswa LPDP dari Pemerintah Indonesia, dengan tesisnya terkait Inovasi dan Ketimpangan di India pada tingkat lokal dan nasional. Dirinya memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Ilmu Ekonomi Islam dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, dengan skripsi terkait Inflasi Ramadhan di Indonesia pada tingkat regional dan nasional. Dalam pengalaman kerjanya selama 5+ tahun, ia telah melakukan 25+ proyek penelitian di INDEF. Ia bekerja dengan pemerintah, sektor swasta, dan mitra internasional untuk mereformasi kebijakan ekonomi demi kepentingan publik. Farras juga menerima Hibah Penelitian Bank Indonesia pada tahun 2022 bersama timnya di INDEF untuk meneliti kebijakan moneter hijau. Sementara itu, dirinya juga pernah menjabat sebagai konsultan dan staf ahli di beberapa lembaga, seperti Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) serta Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI). Minat penelitiannya mencakup pengembangan ekonomi regional, ekonomi digital, dan Usaha Kecil Menengah (UKM).

  • Fadhila Maulida
  • Nur Komaria
Pidah Febriyanti
Jodhie Marshal Pambudi Sinaga

Publikasi Terkait