Sentralisasi Ekspor SDA dan Militerisasi Swasembada Pangan
Sepanjang Mei 2026, perekonomian Indonesia menghadapi tekanan eksternal yang meningkat akibat gejolak geopolitik global yang mendorong lonjakan harga energi dan komoditas strategis. Harga minyak Brent tercatat naik 67,5% (yoy), sementara harga gas alam, tembaga, dan nikel juga mengalami kenaikan signifikan. Di tengah kondisi tersebut, sektor migas menjadi sumber utama pelemahan kinerja perdagangan nasional dengan defisit mencapai USD 3,44 miliar pada April 2026 dan defisit kumulatif USD 8,52 miliar pada empat bulan pertama tahun ini.
Lebih lanjut, hasil analisis pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai eksportir tunggal batubara, CPO, dan ferroalloy untuk mengatasi praktik under-invoicing, transfer pricing, dan pelarian devisa hasil ekspor menunjukkan bahwa selama 2014–2024, ketiga komoditas tersebut berpotensi menyebabkan hilangnya devisa sekitar USD 22,8 miliar, dengan lebih dari 90% berasal dari sektor batubara.
Di sektor pangan, tekanan harga global masih berlanjut, sementara inflasi pangan domestik meningkat menjelang Idul Adha akibat gangguan produksi dan logistik. Pemerintah juga memperkuat program swasembada pangan melalui keterlibatan TNI dalam percepatan produksi padi, jagung, dan kedelai. Sementara itu, sektor sawit menghadapi ketidakpastian transisi kebijakan sentralisasi ekspor sawit yang menekan harga TBS meskipun harga CPO global dan volume ekspor meningkat. Di sisi lain, kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang baru berpotensi meningkatkan likuiditas domestik hingga Rp503-625 triliun, namun memerlukan pengelolaan yang hati-hati agar tidak mengganggu rantai nilai dan daya saing ekspor nasional.