
Jakartaa, 27 Januari 2026 – Pelemahan nilai tukar Rupiah yang berkelanjutan di tengah dinamika politik terkait proses “tukar guling” posisi Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan memunculkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas Rupiah dan keberlanjutan independensi Bank Indonesia. Isu ini menjadi fokus Diskusi Publik INDEF bertajuk “Depresiasi Rupiah dan Dilema Independensi.”
Peneliti INDEF Deniey A. Purwanto menegaskan bahwa pengalaman krisis 1997–1998 menunjukkan dominasi fiskal dan intervensi politik dalam kebijakan moneter secara sistematis melemahkan kepercayaan pasar. Oleh karena itu, independensi Bank Indonesia sebagaimana ditegaskan dalam UU No. 23 Tahun 1999 merupakan prasyarat utama kredibilitas kebijakan moneter dan stabilitas ekonomi nasional. Menurutnya, depresiasi Rupiah belakangan ini mencerminkan respons pasar terhadap guncangan institusional pada fase awal transisi kepemimpinan BI, yang dapat diminimalkan melalui konsistensi kebijakan dan komitmen kuat terhadap independensi bank sentral.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman menekankan bahwa stabilitas Rupiah sangat ditentukan oleh kondisi fiskal. Pelebaran defisit dan meningkatnya rasio utang terhadap PDB mempersempit ruang fiskal dan meningkatkan persepsi risiko, yang tercermin melalui tekanan pada pasar SBN, arus keluar modal, dan pelemahan nilai tukar. Dalam konteks ini, Rupiah berfungsi sebagai indikator dini risiko fiskal yang bereaksi cepat terhadap perubahan persepsi investor. Ia menegaskan bahwa stabilitas Rupiah pada dasarnya mencerminkan keberlanjutan fiskal.
Sementara itu, Peneliti INDEF Abdul Manap Pulungan menilai bahwa pergerakan Rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor global, tetapi juga persoalan domestik dan kebijakan makroekonomi internal. Ketidaksesuaian antara asumsi makro APBN dan realisasi ekonomi, timing kebijakan suku bunga yang kurang tepat, serta tingginya rasio utang valas terhadap cadangan devisa memperbesar kerentanan Rupiah. Dibandingkan negara ASEAN lain, depresiasi Rupiah dinilai relatif lebih dalam dengan ruang apresiasi yang terbatas, mencerminkan kerentanan struktural ekonomi domestik.