Menjaga Stamina Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Jakarta, 11 Mei 2026 — Diskusi publik yang diselenggarakan oleh INDEF bertema “Menjaga Stamina Pertumbuhan Ekonomi Indonesia” menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% pada triwulan I 2026 perlu dilihat dari sisi kualitas, keberlanjutan, dan dampaknya terhadap masyarakat. Para narasumber menilai pertumbuhan ekonomi saat ini masih menghadapi berbagai tantangan, seperti tekanan fiskal, pelemahan fundamental makroekonomi, ketergantungan pada stimulus belanja pemerintah, lemahnya penciptaan lapangan kerja berkualitas, serta belum meratanya manfaat pertumbuhan bagi masyarakat.

Kepala Center of Macroeconomics and Finance INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menilai pertumbuhan ekonomi yang terlihat kuat belum sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi yang sehat. Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama, namun banyak dipengaruhi faktor musiman seperti Ramadan, Idulfitri, THR, dan percepatan belanja pemerintah. Di sisi lain, investasi dan sektor manufaktur dinilai belum mampu menciptakan multiplier effect optimal terhadap produktivitas dan lapangan kerja formal. Rizal juga menyoroti tingginya ketergantungan pada impor bahan baku dan komoditas mentah yang menekan daya saing dan stabilitas rupiah.

Guru Besar FEB UNDIP, Akhmad Syakir Kurnia, menekankan bahwa kualitas pertumbuhan ekonomi perlu dipertanyakan karena sebagian dipengaruhi oleh impor alutsista yang tercatat sebagai pembentukan modal tetap bruto (PMTB). Menurutnya, kondisi ekonomi riil masyarakat justru tercermin dari meningkatnya PHK, lemahnya pasar tenaga kerja, dan tingginya ketergantungan pada belanja pemerintah. Ia juga menyoroti tingginya ICOR Indonesia yang menunjukkan efisiensi ekonomi masih rendah serta pentingnya investasi pada kualitas SDM, inovasi, industrialisasi, dan stabilitas kebijakan untuk menjaga kepercayaan pasar.

Peneliti Center of Macroeconomics and Finance INDEF, Riza Annisa Pujarama, menjelaskan bahwa tekanan fiskal menjadi tantangan utama akibat tingginya belanja pemerintah untuk subsidi, bantuan sosial, program MBG, dan pembayaran bunga utang. Keseimbangan primer APBN yang semakin negatif menunjukkan pendapatan negara belum cukup untuk membayar bunga utang tanpa tambahan utang baru. Ia juga menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi masih bergantung pada konsumsi pemerintah dan faktor musiman, sementara sektor informal semakin mendominasi pasar tenaga kerja sehingga kualitas pekerjaan belum membaik.

Sementara itu, Data Scientist Big Data Continuum INDEF, Wahyu Tri Utomo, memaparkan hasil analisis 12.352 percakapan di Twitter dan Threads yang menunjukkan sekitar 94,6% sentimen publik bersifat negatif dan netral terhadap pertumbuhan ekonomi 5,61%. Publik menilai pertumbuhan ekonomi belum terasa dalam kehidupan sehari-hari karena sulitnya mencari pekerjaan, meningkatnya PHK, melemahnya daya beli, dan kenaikan harga kebutuhan pokok. Muncul pula istilah “pertumbuhan infus” yang menggambarkan persepsi bahwa pertumbuhan ekonomi lebih ditopang stimulus pemerintah dibanding aktivitas ekonomi masyarakat secara organik.

Secara keseluruhan, diskusi ini menegaskan pentingnya mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih produktif, inklusif, dan berkelanjutan melalui penguatan sektor manufaktur, investasi produktif, industrialisasi, peningkatan kualitas SDM, penciptaan lapangan kerja formal, serta penguatan daya beli masyarakat.

Bagikan

Penulis

Video

Media Terkait