- Ketergantungan Indonesia pada AS dan China menciptakan kerentanan struktural, investasi AS yang volatil dan ekspor ke China yang semakin mendominasi. Diversifikasi kerja sama ke negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) menjadi langkah strategis untuk memperluas ruang manuver dan membangun poros ekonomi yang lebih stabil dan berbasis syariah.
- Saat ini, negara-negara GCC sedang bertransformasi ke industrialisasi hijau dengan dukungan dana investasi besar dan beberapa proyek ambisius. Indonesia masih tertinggal dalamenergi terbarukan,namun konsistensi UEA membuka peluang percepatan transisi energi dan pengembangan kawasan industri hijau berbasis syariah.
- Indonesia merupakan benchmark global green sukuk dengan pangsa 22% dan status top sovereign issuer. Posisi ini dapat dimanfaatkan untuk menarik investasi hijau GCC melalui pembiayaan syariah terintegrasi seperti sukuk berbasis proyek, dana investasi bersama, dan wakaf produktif dengan pendekatan circular impact finance yang memperkuat dampak sosial dan keberlanjutan
- Dalam geo economics baru, Indonesia berpotensi menjadi green industry hub ASEAN dan mitra kerjasama strategis negara-negara GCC. Hal ini memerlukan reformasi investasi hijau yang bankable,diplomasi proaktif, fokus pada PLTS dan hidrogen, serta integrasi wakaf produktif sirkuler agar Indonesia menjadi poros ekonomi hijau yang kompetitif dan berkelanjutan.