Center of Digital Economy and SMEs Brief Update – Mei 2026

Paradoks Pertumbuhan Ekosistem Digital UMKM Indonesia

  • Jumlah pelaku usaha yang masuk ke platform e-commerce meningkat signifikan hingga lebih dari 4,4 juta unit, namun pertumbuhan nilai transaksi (GMV) justru melambat dan pangsa pasar Indonesia di kawasan Asia Tenggara menurun. Kondisi ini menunjukkan kondisi paradoksal ekonomi digital Indonesia, yakni ekspansi pelaku usaha tidak diikuti oleh peningkatan kinerja yang sebanding.
  • Konsolidasi marketplace menyebabkan pasar semakin terkonsentrasi dan mengurangi daya tawar UMKM. Di sisi lain, besarnya biaya platform, logistik, dan pemasaran digital memperkecil margin usaha, sehingga memperkuat tekanan terhadap keberlanjutan bisnis, khususnya bagi pengusaha skala mikro dan kecil.
  • Pertumbuhan jumlah pelaku usaha digital berlangsung lebih cepat dibandingkan pertumbuhan permintaan domestik yang cenderung moderat. Pada saat yang sama, meningkatnya arus barang impor melalui e-commerce yang didominasi oleh produk dari China, menambah intensitas persaingan dan menekan daya saing UMKM lokal.
  • Maka, pemerintah harus segera menerapkan PPN dan bea masuk pada seluruh barang impor via ecommerce guna menciptakan keadilan pasar. Selain itu, fokus kebijakan harus beralih kepada mendorong ekosistem digital berbasis kualitas, peningkatan produktivitas digital UMKM, serta peningkatan efisiensi biaya.

Hari & Tanggal

Waktu

Live

Bagikan

Penulis

  • Izzudin Al Farras Adha

    Izzudin Al Farras Adha adalah peneliti di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), sebuah lembaga think-tank di bidang ekonomi dan keuangan yang berbasis di Jakarta. Saat ini dirinya terlibat di Center of Digital Economy and SMEs, INDEF. Farras meraih gelar MSc in Urban Economic Development dari University College London (UCL), Inggris, dimana ia merupakan penerima Beasiswa LPDP dari Pemerintah Indonesia, dengan tesisnya terkait Inovasi dan Ketimpangan di India pada tingkat lokal dan nasional. Dirinya memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Ilmu Ekonomi Islam dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, dengan skripsi terkait Inflasi Ramadhan di Indonesia pada tingkat regional dan nasional. Dalam pengalaman kerjanya selama 5+ tahun, ia telah melakukan 25+ proyek penelitian di INDEF. Ia bekerja dengan pemerintah, sektor swasta, dan mitra internasional untuk mereformasi kebijakan ekonomi demi kepentingan publik. Farras juga menerima Hibah Penelitian Bank Indonesia pada tahun 2022 bersama timnya di INDEF untuk meneliti kebijakan moneter hijau. Sementara itu, dirinya juga pernah menjabat sebagai konsultan dan staf ahli di beberapa lembaga, seperti Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) serta Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI). Minat penelitiannya mencakup pengembangan ekonomi regional, ekonomi digital, dan Usaha Kecil Menengah (UKM).

  • Fadhila Maulida
Kharisma Mayang
Richita Hongo

Publikasi Terkait