Diskusi Publik INDEF bertajuk “Ekonomi Lebaran di Tengah Gejolak Perang” menyoroti dampak eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap perekonomian Indonesia menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026. Penyerangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta penutupan Selat Hormuz memicu gangguan pasokan energi global yang mendorong kenaikan harga minyak mentah Brent hingga sekitar USD 84 per barel pada awal Maret 2026. Lonjakan harga energi ini berpotensi menambah tekanan terhadap stabilitas ekonomi domestik, terutama di tengah meningkatnya konsumsi masyarakat selama periode Lebaran.
Abdul Manap Pulungan menjelaskan bahwa Ramadan dan Idul Fitri menjadi momentum penting bagi perekonomian karena adanya peningkatan konsumsi yang didorong oleh penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR). Namun, potensi peningkatan konsumsi tersebut kerap tereduksi oleh lonjakan inflasi pada komponen volatile food dan administered prices. Selain itu, kenaikan harga BBM, kemacetan saat arus mudik, serta dampak konflik global terhadap harga energi dan bahan baku turut menekan daya beli masyarakat. Pertumbuhan uang beredar (M1) memang meningkat selama periode Lebaran, tetapi lajunya cenderung melambat dalam beberapa tahun terakhir, mengindikasikan pelemahan daya beli terutama pada kelompok menengah ke bawah.
Afaqa Hudaya menyoroti bahwa ketegangan geopolitik juga mempengaruhi stabilitas harga pangan dan energi. Meskipun pasokan pangan global relatif membaik, tekanan inflasi di Indonesia masih terlihat pada administered prices yang meningkat signifikan serta harga komoditas pangan tertentu seperti beras medium dan gula. Sementara itu, konflik di kawasan Timur Tengah meningkatkan risiko terhadap pasokan minyak global, dengan harga Brent diproyeksikan berpotensi mencapai lebih dari USD 110 per barel pada pertengahan 2026. Bagi Indonesia yang masih berstatus net importer migas, kondisi ini memperbesar risiko defisit neraca migas dan meningkatkan sensitivitas ekonomi domestik terhadap fluktuasi harga energi global.
Nur Komaria menambahkan bahwa momentum Lebaran juga mendorong aktivitas ekonomi, khususnya bagi UMKM, melalui meningkatnya mobilitas pemudik serta tren konsumsi seperti belanja pakaian Lebaran dan fenomena “war takjil”. Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, terutama melalui e-commerce dan sistem pembayaran digital seperti QRIS, turut memperkuat dinamika konsumsi tersebut. Namun, tantangan masih muncul dalam bentuk ketimpangan akses internet yang terpusat di Pulau Jawa serta keterbatasan infrastruktur pariwisata dan tingginya biaya penerbangan domestik. Oleh karena itu, penguatan infrastruktur digital di luar Jawa, pengembangan komoditas lokal, serta peningkatan efisiensi transportasi dan infrastruktur pariwisata menjadi langkah penting untuk memaksimalkan peluang ekonomi Lebaran secara lebih merata.