Tanggapan Atas Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2025

Institute for Development of Economics & Finance (INDEF) menyoroti pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II-2025 yang tercatat sebesar 5,12% (yoy), lebih tinggi dibandingkan kuartal II-2024 (5,05%) dan kuartal I-2025 (4,87%). Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh lima sektor utama, yakni Industri Pengolahan, Pertanian, Perdagangan, Konstruksi, dan Pertambangan, serta dari sisi pengeluaran oleh Konsumsi Rumah Tangga, PMTB (Pembentukan Modal Tetap Bruto), dan Ekspor. Namun, INDEF mempertanyakan validitas capaian ini mengingat sejumlah indikator sektor riil justru menunjukkan perlambatan, seperti penurunan penjualan kendaraan, kontraksi PMI Manufaktur, melemahnya konsumsi rumah tangga, penurunan investasi asing, meningkatnya PHK, inflasi tinggi, dan melemahnya kredit perbankan serta kepercayaan konsumen.

Meskipun Industri Pengolahan tumbuh signifikan sebesar 5,68%, data PMI menunjukkan industri masih berada dalam fase kontraksi, dengan kondisi terburuk terjadi pada kuartal ini. Pertumbuhan tinggi dalam sektor Industri Mesin dan Perlengkapan, Logam Dasar, dan Barang Galian bukan Logam diduga berkaitan dengan lonjakan impor produk mesin, yang ironisnya justru bukan produk buatan dalam negeri. Selain itu, pertumbuhan PMTB sebesar 6,99% dinilai kontradiktif dengan melambatnya realisasi investasi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. INDEF juga mencatat bahwa perlambatan kredit perbankan pada sektor-sektor utama menandakan tekanan di sisi produksi dan konsumsi masih tinggi. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (tabungan) tidak diiringi oleh penyaluran kredit, terutama di sektor industri manufaktur yang masih mengalami stagnasi. Temuan-temuan ini menimbulkan keraguan terhadap keberlanjutan pertumbuhan ekonomi dan menuntut evaluasi lebih lanjut terhadap kondisi sektor riil di Indonesia.

Layanan Pijat SHT

Share

Author

Video

Related Media