Monitoring Issue of Food, Energy and Sustainable Development – September 2025

Dinamika Pangan dan Energi: Dari Gejolak Harga Beras hingga Perbaikan Tata Kelola Impor BBM

  • Tekanan harga pangan global dan domestik masih berlanjut, dengan beras menjadi penyumbang utama inflasi pangan di Indonesia sepanjang 2025. Meski tren harga pangan global cenderung melemah, harga beras domestik terus meningkat hingga pertengahan tahun sebelum terkoreksi pada September. Sentimen publik terhadap kenaikan harga beras didominasi nada negatif, terutama terkait isu kualitas dan distribusi, sementara efektivitas intervensi SPHP Bulog masih terbatas karena jangkauan distribusi dan disparitas antarwilayah.
  • Kebijakan stabilisasi pangan nasional menghadapi tantangan distribusi dan tata niaga, namun juga membuka peluang diversifikasi pangan lokal. Program SPHP berkontribusi menahan gejolak harga, tetapi efektivitasnya bersifat lokal dan perlu diperluas ke luar Jawa dengan dukungan infrastruktur distribusi yang lebih kuat. Sementara itu, polemik impor gula menyoroti kelemahan tata kelola dan risiko ketergantungan, sehingga diversifikasi pangan berbasis sagu, sorgum, dan singkong dalam RAPBN 2026 menjadi strategi penting untuk mengurangi kerentanan impor dan memperkuat ketahanan pangan jangka panjang.
  • Defisit Migas, Tekanan Global, dan Harga Komoditas yang Berlawanan Arah. Neraca migas Indonesia konsisten defisit dengan fluktuasi tajam, dipicu harga minyak global yang melemah dan produksi domestik terbatas. Outlook komoditas 2025 menunjukkan energi tertekan dengan harga Brent turun ke ~USD 59/barel, sementara logam mulia seperti emas mencetak rekor di atas USD 3.450/oz sebagai safe haven. Nikel tetap lesu akibat kelebihan pasokan, sedangkan tembaga berpotensi naik karena gangguan suplai. Dinamika ini menegaskan rapuhnya ketergantungan impor energi dan pentingnya mempercepat diversifikasi energi serta penguatan hilirisasi mineral strategis
  • Ambisi B50, Lonjakan Emisi Transportasi, dan Beban Subsidi Energi. Rencana penerapan B50 berpotensi mengurangi impor solar, namun membawa risiko fiskal karena selisih harga biodiesel–solar makin lebar saat harga minyak dunia turun, sementara kapasitas produksi domestik masih tipis terhadap kebutuhan. Di sisi lain, emisi transportasi naik tajam karena pasar didominasi kendaraan boros, sementara mobil irit hanya menguasai pangsa kecil. Hal ini memperbesar konsumsi BBM fosil dan menekan APBN lewat subsidi energi yang sudah membengkak hingga ratusan triliun rupiah, mayoritas tidak tepat sasaran. Kenaikan permintaan BBM di SPBU swasta tidak mampu diimbangi dengan stok yang dimiliki oleh SPBU swasta sehingga terjadi shortage stok BBM SPBU swasta.
  • Pengembangan Energi, Hilirisasi, dan Adopsi EV: Peluang dan Risiko. Upaya mengurangi ketergantungan LPG melalui jargas rumah tangga berjalan, tetapi terkendala anggaran dan skema pendanaan, sementara hilirisasi nikel yang masif justru menimbulkan paradoks triple dependency karena dominasi modal, teknologi, dan pembiayaan asing, terutama dari Tiongkok. Posisi Indonesia sebagai produsen mineral kritis global memberi peluang strategis dalam transisi energi, namun ekspansi smelter berbasis PLTU captive menimbulkan green paradox karena tetap bergantung pada batubara. Di sisi lain, adopsi kendaraan listrik tumbuh pesat dengan lonjakan penjualan BEV dan peningkatan penggunaan SPKLU, meski tantangan harga tinggi, keterbatasan infrastruktur, serta kebutuhan strategi kebijakan jangka panjang masih besar untuk memastikan transisi berjalan inklusif dan berkelanjutan.

Hari & Tanggal

Time

Live

Share

Author

  • Abra Talattov

    Abra Talattov merupakan ekonom muda di INDEF yang bergabung sejak tahun 2011. Ia menyelesaikan studi Sarjana Ekonomi di Universitas Diponegoro, Semarang, dan meraih gelar Master of Science dari University of Malaysia Terengganu. Di luar aktivitas riset, Abra pernah menjabat sebagai Manajer Pilar Pembangunan Ekonomi di Sekretariat SDGs Provinsi DKI Jakarta, serta menjadi Tenaga Ahli di DPR RI yang mengawal berbagai isu strategis di Komisi VI dan Badan Anggaran. Saat ini, ia ditugaskan memimpin Center of Food, Energy, and Sustainable Development (FESD) INDEF.

Gading Kevin Jerico Simarmata
Aisyah Nur’aeni
Gabriel Valerion Lengkong
Muhammad Hasbi A

Publikasi Terkait