Jakarta, 25 Juni 2026 – Dalam Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun 2026 bertajuk “Menavigasi Guncangan Global: Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Krisis Geopolitik, Energi, dan Iklim”, INDEF menyoroti meningkatnya kerentanan ekonomi Indonesia akibat kombinasi tekanan global dan domestik. Konflik geopolitik di Timur Tengah, ketidakpastian pasar keuangan global, pelemahan nilai tukar Rupiah, tekanan fiskal, serta menurunnya daya beli masyarakat menjadi tantangan utama yang menguji ketahanan ekonomi nasional pada semester I-2026.

Meskipun ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada Triwulan I-2026, INDEF menilai pertumbuhan tersebut masih ditopang faktor sementara seperti konsumsi Lebaran, efek basis rendah, dan peningkatan belanja pemerintah. Di sisi lain, daya beli masyarakat menunjukkan pelemahan yang tercermin dari menurunnya Indeks Keyakinan Konsumen dan perlambatan penjualan ritel. Tekanan inflasi pangan, disparitas harga antarwilayah, serta menyempitnya ruang fiskal akibat tingginya realisasi subsidi dan kompensasi energi juga semakin membebani perekonomian.

Sektor industri turut menghadapi tekanan akibat tingginya ketergantungan pada bahan baku impor dan energi fosil. Kenaikan biaya produksi dan gangguan rantai pasok global menyebabkan margin usaha semakin tertekan, terutama pada industri alat angkutan, tekstil, elektronik, dan sektor berbasis energi. Kondisi ini tercermin pada surplus perdagangan yang turun menjadi hanya US$0,09 miliar pada April 2026, terendah sejak Mei 2020.

Melalui simulasi menggunakan model Computable General Equilibrium (CGE), INDEF mengkaji tiga skenario risiko global terhadap perekonomian Indonesia. Skenario lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,21 persen, menekan ekspor 2,44 persen, dan menurunkan upah riil 0,28 persen. Sementara itu, perlambatan ekonomi negara mitra dagang diperkirakan menjadi skenario paling berat dengan dampak penurunan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,24 persen dan ekspor sebesar 5,05 persen. Adapun fragmentasi perdagangan global dan disrupsi rantai pasok diproyeksikan menekan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,17 persen dan menurunkan kinerja perdagangan serta upah riil.

INDEF menilai Indonesia masih memiliki modal untuk menghadapi berbagai guncangan tersebut, namun sejumlah kerentanan struktural harus segera dibenahi, termasuk ketergantungan pada impor energi dan bahan baku, lemahnya daya saing industri, terbatasnya diversifikasi ekspor, serta tingginya sensitivitas terhadap gejolak global. Oleh karena itu, INDEF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada Triwulan II-2026 melambat ke kisaran 5 persen.

Sebagai respons, INDEF merekomendasikan tujuh strategi utama untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional, yaitu memperkuat stabilisasi makroekonomi dan kredibilitas fiskal, melindungi daya beli masyarakat dan kelas menengah, mereformasi subsidi energi agar lebih tepat sasaran, mempercepat transisi energi, memperkuat ketahanan pangan, mengurangi ketergantungan impor bahan baku industri, serta mendorong diversifikasi ekspor dan integrasi rantai pasok regional.

Share

Author

Video

Publikasi Terkait