Realita Ekonomi Kurban: Tantangan Penguatan Industri Peternakan Untuk Ketahanan Pangan Nasional

  • Paradoks Besar Ekonomi Kurban
    Ekonomi kurban Indonesia menghadapi paradoks besar: potensi pasar mencapai lebih dari Rp27 triliun, tetapi kapasitas peternakan domestik masih lemah sehingga harga ternak terus naik, impor meningkat, dan sebagian manfaat ekonomi justru bocor ke luar negeri.
  • Peternak Belum Menjadi Pemenang Utama
    Lonjakan permintaan Iduladha belum sepenuhnya menjadi penggerak kesejahteraan peternak nasional. Struktur rantai pasok yang panjang, biaya produksi tinggi, serta lemahnya breeding dan distribusi membuat multiplier effect ekonomi kurban belum optimal dinikmati sektor riil domestik.
  • Multiplier Effect Tinggi, Distribusi Masih Timpang
    Hasil simulasi mencatatkan bahwa multiplier effect ekonomi kurban mencapai 3,41 kali terhadap output perekonomian, namun distribusi manfaatnya masih timpang. Kelompok rumah tangga menengah atas menikmati porsi dampak ekonomi jauh lebih besar, sementara konsumsi protein hewani masyarakat miskin masih sangat rendah.
  • Transformasi Ekonomi Kurban Domestik
    Karena itu, penguatan ekonomi kurban tidak cukup hanya mendorong peningkatan penghimpunan kurban, tetapi harus diarahkan pada penguatan breeding ternak domestik, efisiensi rantai pasok, reformasi distribusi, pembiayaan peternakan agar manfaat ekonomi kurban lebih merata, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat.

Hari & Tanggal

Time

Live

Share

Author

Rochmatulloh Alaika
Muhammad Syakhsan Haq

Publikasi Terkait