Quo Vadis Panas Bumi Indonesia

Dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional dan mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat, seperti yang diumumkan oleh Presiden Joko Widodo di forum COP-26 Glasgow, INDEF menyelenggarakan diskusi publik dengan judul “Quo Vadis Energi Panas Bumi Indonesia.” Acara ini bertujuan untuk mengeksplorasi berbagai aspek yang terkait dengan implementasi energi panas bumi yang berhasil, mengingat potensi besar sebesar 29,5 GW.

Diskusi ini menghadirkan pembicara diantaranya, seperti Harris Yahya, Direktur Energi Panas Bumi di Direktorat Jenderal EBTKE; Prijandaru Effendi, Ketua Asosiasi Panas Bumi Indonesia; Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute; dan Mirah Midadan, Peneliti di Pusat Kajian Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan INDEF. Rosaline Anggita Elsa, Asisten Peneliti di INDEF, menjadi moderator acara tersebut.

Para pembicara membahas topik seperti kesiapan teknis, infrastruktur, pembiayaan, kesiapan regulasi pendukung, dan pendirian ekosistem untuk penggunaan energi terbarukan. Tujuan dari diskusi ini adalah untuk memungkinkan seluruh masyarakat beralih dari konsumsi energi bahan bakar fosil ke energi bersih, dengan fokus pada energi panas bumi sebagai sumber energi terbarukan utama.

Bagikan

Penulis

Video
Putar Video

Media Terkait