Tantangan dan Peluang Industri Petrokimia di Indonesia

Industri petrokimia merupakan industri padat modal yang mampu menghasilkan bahan baku kimia dasar (base chemicals) berjenis seperti olefins, aromatics dan polymers yang dihasilkan dari sumber daya minyak dan gas (migas). Bahan kimia ini akan menjadi bahan baku bagi produk hilir yang dikonsumsi oleh industri lainnya seperti plastik, farmasi dan tekstil. Peran industri ini penting bagi perekonomian nasional mengingat industri kimia bersama industri farmasi dan obat tradisional menempati posisi ke empat sebagai kontributor terbesar terhadap industri pengolahan non-migas sebesar 9.72 persen. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sendiri menargetkan bahwa pertumbuhan industri pengolahan non-migas sebesar 5.67 persen dari PDB atau sebesar Rp 345,4 triliun akan ditopang oleh Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) yang sebesar Rp 111,7 triliun atau lebih dari sepertiganya.

Hari & Tanggal

Waktu

Live

Bagikan

Penulis

  • Tauhid Ahmad

    Tauhid Ahmad merupakan alumni program sarjana dan Doktoral IPB University serta Magister Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia. Berpengalaman dalam kegiatan penelitian, pelatihan serta advokasi kebijakan lebih dari 25 tahun dengan beragam spefisikasi keahlian di bidang keuangan negara dan moneter, desentralisasi fiskal dan otonomi daerah serta pertanian, industri dan perdagangan internasional. Mengawali karir sebagai peneliti di Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Jakarta hingga sebagai konsultan beragam kegiatan penelitian di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Pernah bekerja di Dewan Perwakilan Rakyat RepubIik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia sebagai staf ahli dan mengelola jurnal Jurnal Ekonomi Indonesia Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI). Pengalaman lainnya pernah menjadi anggota kelompok kerja Komite Industri dan Ekonomi Nasional dalam mendorong kebijakan industri nasional. Selain itu juga memiliki pengalaman penelitian dan kerjasama dengan pelbagai lembaga pemerintah maupun lembaga internasional, seperti Bank Dunia, UNDP, UNCTAD, GIZ, Ford Fondation, maupun lainnya. Kini aktivias sehari-hari menjadi Direktur Eksekutif INDEF sejak tahun 2019 hingga saat ini serta menjadi pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta.

  • Ahmad Heri Firdaus
  • Andry Satrio Nugroho

    Andry meraih gelar sarjana di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Berhasil menamatkan pendidikan magisternya di Studi Pembangunan, Institut Teknologi Bandung dengan predikat cum laude. Ia juga saat ini menjadi tenaga ahli anggota Komisi VI DPR RI. Sebelumnya, pernah menjadi asisten peneliti di Universitas Katolik Parahyangan dan Institut Teknologi Bandung. Minat penelitian Andry di bidang industri, perdagangan dan transportasi.

Publikasi Terkait