{"id":289146,"date":"2026-10-09T14:26:17","date_gmt":"2026-10-09T07:26:17","guid":{"rendered":"https:\/\/indef.or.id\/?post_type=publikasi&#038;p=289146"},"modified":"2026-10-09T14:30:24","modified_gmt":"2026-10-09T07:30:24","slug":"dua-tahun-pemerintahan-prabowo-ekonomi-syariah-melemah","status":"publish","type":"publikasi","link":"https:\/\/indef.or.id\/en\/publikasi\/dua-tahun-pemerintahan-prabowo-ekonomi-syariah-melemah\/","title":{"rendered":"Dua Tahun Pemerintahan Prabowo Ekonomi Syariah Melemah"},"content":{"rendered":"<p>Ekonomi syariah menunjukkan indikasi melemahnya prioritas dalam agenda kebijakan nasional. Pidato Kenegaraan dan Nota Keuangan RAPBN 2027 tidak menyebut ekonomi syariah secara eksplisit, meskipun Asta Cita 3 dan RPJMN 2025 2029 menempatkannya sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional. Pelemahan ini juga tercermin pada sejumlah indikator. Peringkat Indonesia dalam State of the Global Islamic Economy (SGIE) turun dari posisi ketiga menjadi keempat pada edisi 2025\/26 (DinarStandard, 2026).<\/p>\n<p>Perbankan syariah menghadapi indikasi growth illusion: aset, pembiayaan, dan dana pihak ketiga tetap tumbuh, tetapi pangsa pasar terhadap perbankan nasional turun dari 7,72% (Desember 2024) menjadi 7,36% (Juni 2026) (Kontan, 2025; OJK, 2026; CSED INDEF, 2025). Di pasar modal, IHSG terkoreksi 28,34% hingga 24 Juli 2026 dengan net sell asing Rp79,09 triliun (Investortrust, 2026), setelah Moody\u2019s dan Fitch menurunkan outlook peringkat Indonesia menjadi negatif. Sertifikasi halal yang diklaim mencapai 24 juta produk (MUI Digital, 2026) belum mendorong ekspor, dan penghimpunan zakat nasional baru 13,7% dari potensi Rp327 triliun (Fortune IDN, 2026).<\/p>\n<p>Rekomendasi kebijakan: (1) mengembalikan ekonomi syariah sebagai agenda pembangunan nasional yang mandiri; (2) mengintegrasikan sertifikasi halal dengan pembiayaan syariah; (3) memperkuat dukungan fiskal, pengawasan, dan transparansi; (4) memperdalam pasar modal dan investasi syariah; serta (5) memperkuat tata kelola Dana Sosial Umat.<\/p>","protected":false},"author":72,"featured_media":289148,"template":"","pub_cat":[22],"topic":[354,352,353,79],"ppma_author":[213,73],"class_list":["post-289146","publikasi","type-publikasi","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","pub_cat-policy-brief","topic-dana-sosial","topic-dua-tahun-prabowo","topic-rapbn","topic-syariah"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/publikasi\/289146","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/publikasi"}],"about":[{"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/publikasi"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/72"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/289148"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=289146"}],"wp:term":[{"taxonomy":"pub_cat","embeddable":true,"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/pub_cat?post=289146"},{"taxonomy":"topic","embeddable":true,"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/topic?post=289146"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/ppma_author?post=289146"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}