{"id":289088,"date":"2026-08-10T19:30:58","date_gmt":"2026-08-10T12:30:58","guid":{"rendered":"https:\/\/indef.or.id\/?p=289088"},"modified":"2026-08-10T19:31:23","modified_gmt":"2026-08-10T12:31:23","slug":"kuat-di-angka-rapuh-di-fondasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indef.or.id\/en\/kuat-di-angka-rapuh-di-fondasi\/","title":{"rendered":"Di Balik Pertumbuhan 5,29%: Kuat di Angka, Rapuh di Fondasi?"},"content":{"rendered":"<p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Jakarta, 6 Agustus 2026<\/strong> \u2014 Diskusi Publik INDEF bertajuk <em>\u201cDi Balik Pertumbuhan 5,29%: Kuat di Angka, Rapuh di Fondasi?\u201d<\/em> menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar <strong>5,29 persen pada Triwulan II-2026<\/strong> belum sepenuhnya mencerminkan penguatan fundamental ekonomi. Pertumbuhan masih banyak ditopang oleh konsumsi pemerintah, sementara konsumsi rumah tangga melambat dan kontribusi sektor eksternal melemah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa daya tahan ekonomi domestik masih menghadapi sejumlah tantangan struktural.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Eko Listiyanto<\/strong>, Direktur Pengembangan Big Data INDEF, menilai kualitas pertumbuhan perlu menjadi perhatian utama. Perlambatan konsumsi rumah tangga dari 5,52 persen menjadi 5,06 persen menunjukkan bahwa daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih secara organik. Di sisi lain, konsumsi pemerintah yang tumbuh hampir 16 persen menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan. Eko juga menyoroti paradoks sektor perdagangan yang tumbuh 6,39 persen namun mengalami pengurangan tenaga kerja terbesar, sementara kedalaman dan keparahan kemiskinan di perdesaan justru meningkat. Pemerintah perlu mengarahkan kebijakan pada penciptaan lapangan kerja formal, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta perlindungan sosial yang berorientasi pada peningkatan pendapatan.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Ahmad Heri Firdaus<\/strong>, Peneliti Center of Industry, Trade, and Investment INDEF, menilai sektor tradable yang menjadi kontributor besar PDB dan penyerapan tenaga kerja justru tumbuh di bawah rata-rata nasional. Pertumbuhan lebih banyak ditopang sektor jasa non-tradable yang relatif terbatas dalam menciptakan lapangan kerja. Sementara itu, sektor manufaktur masih menghadapi tekanan akibat lemahnya permintaan, tingginya biaya produksi, ketergantungan bahan baku impor, dan persaingan produk impor. Karena itu, agenda industrialisasi perlu kembali menjadi prioritas melalui penguatan manufaktur, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta investasi yang diarahkan pada ekspansi kapasitas produksi dan inovasi.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Izzudin Al Farras Adha<\/strong>, Kepala Center of Digital Economy and SMEs INDEF, mengingatkan bahwa peluang akselerasi pertumbuhan pada semester II-2026 semakin terbatas karena momentum Ramadan dan Idulfitri serta peningkatan konsumsi pemerintah tidak lagi tersedia. Kontribusi program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) juga perlu dievaluasi seiring melambatnya realisasi anggaran. Di sektor digital, peningkatan transaksi melalui platform digital belum otomatis menghasilkan pertumbuhan yang inklusif bagi UMKM. Digitalisasi perlu diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, akses pasar, dan daya saing UMKM, bukan hanya meningkatkan volume transaksi.<\/p>\n<p>Secara keseluruhan, INDEF menilai pertumbuhan ekonomi <strong>5,29 persen<\/strong> perlu dibaca secara lebih kritis karena masih menyimpan persoalan pada kualitas dan pemerataan pertumbuhan. Pemerintah perlu menggeser fokus dari sekadar mengejar angka pertumbuhan menuju penguatan fondasi ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja berkualitas, industrialisasi, peningkatan produktivitas UMKM, penguatan daya beli, serta kebijakan fiskal yang lebih efektif. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya kuat secara statistik, tetapi juga mampu menciptakan kesejahteraan yang lebih merata dan berkelanjutan.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 6 Agustus 2026 \u2014 Diskusi Publik INDEF bertajuk \u201cDi Balik Pertumbuhan 5,29%: Kuat di Angka, Rapuh di Fondasi?\u201d menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen pada Triwulan II-2026 belum sepenuhnya mencerminkan penguatan fundamental ekonomi. Pertumbuhan masih banyak ditopang oleh konsumsi pemerintah, sementara konsumsi rumah tangga melambat dan kontribusi sektor eksternal melemah. Kondisi tersebut [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":289093,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[335,254,240,334],"ppma_author":[19],"class_list":["post-289088","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-diskusi-publik","tag-impor","tag-mbg","tag-pertumbuhan-ekonomi","tag-tenaga-kerja"],"acf":[],"authors":[{"term_id":19,"user_id":1,"is_guest":0,"slug":"siteindefadmin","display_name":"INDEF","avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/48b30ffdbbb215c58d282d017659b46bf3893b4d661401c94690978ef61552b4?s=96&d=mm&r=g","author_category":"","user_url":"http:\/\/indef.or.id","last_name":"INDEF","first_name":"Admin","job_title":"","description":""}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/289088","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=289088"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/289088\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":289096,"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/289088\/revisions\/289096"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/289093"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=289088"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=289088"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=289088"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/indef.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/ppma_author?post=289088"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}