Dialog 100 Ekonom bersama Wakil Presiden

Dialog 100 Ekonom bersama Wapres M. Jusuf Kalla diselenggarakan oleh INDEF

Kamis, 17 Oktober 2019
Hotel Westin, Jakarta

Dihadiri
1. Prof. Didik J. Rachbini (INDEF)
2. Prof. Didin S. Damanhuri (INDEF)
3. Prof. Emil Salim
4. Marsekal Madya TNI (Purn) Prof. Ginandjar Kartasasmita
5. Fadel Muhammad (Wakil Ketua MPR RI)
6. Azis Syamsuddin (Wakil Ketua DPR RI)
7. Airlangga Hartanto (Menteri Perindustrian)
8. Budi Karya (Menteri Perhubungan)
9. Rudiantara (Menkominfo)
10. Thomas Lembong (BKPM)
11. Sri Adiningsih (Wantimpres)
12. Agus Martowardojo (Gub. BI 2013-2018)
13. Agus Rahardjo (Ketua KPK)
14. Para Ekonom

Paparan Kunci Wapres JK
disarikan oleh Abra el Talattov (Peneliti INDEF) dari berbagai sumber

1. Wapres JK menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya, karena di akhir masa jabatannya masih bisa dipertemukan dengan orang-orang hebat.

“Hari ini saya sudah mendengarkan dan bertemu banyak teman. Sisa dua hari kerja saya di pemerintahan. Saya terima kasih, ini pidato terakhir saya di acara temen-temen,”

2. Menurut JK, untuk menilai kondisi perekonomian Indonesia harus menilai secara keseluruhan. Mulai dari kondisi ekonomi global, efeknya kepada Indonesia, dan hasil akhirnya.

“Kalau kita berbicara tentang ekonomi Indonesia tentu tidak lengkap kalau kita tidak berbicara ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Kita juga harus melihat apa korelasi sistem ekonomi di dunia kepada Indonesia,”

3. Menurut JK, sistem ekonomi dunia saat ini mengalami perubahan besar-besaran. Pasalnya, perusahaan raksasa di dunia tak lagi perusahaan yang berkecimpung dalam sektor energi atau keuangan seperti Saudi Aramco, Exxon, atau pun Citibank.

“Dan apa efeknya kepada kita maka tentu akan menjadi suatu perubahan di dunia. Teknologi, climate change berubah semuanya. Dulu bisnis atau perusahaan itu energi, Exxon, Aramco dan sebagainya, atau perbankan seperti Citibank segala macam. Itulah multi nasional company yang hebat,”

JK mengatakan, saat ini perusahaan-perusahaan raksasa dunia justru yang berkecimpung dalam ekonomi digital seperti Facebook, Apple, Microsoft, Amazon, dan sebagainya.

“Sekarang pengusaha yang paling besar dan yang paling kaya Microsoft, Apple, Amazon, Facebook. Artinya, energi dikalahkan oleh digital economy. Jadi perkembangan-perkembangan itu yang terjadi di dunia yang kemudian merubah gaya ekonomi dunia dan efeknya kepada kita,”

4. JK juga menyinggung soal konflik di berbagai belahan dunia baik Brexit, perang Dagang AS-China, konflik Korea dan Jepang, dan sebagainya. Indonesia yang merupakan negara di Asia Tenggara punya pilihan untuk mengambil keuntungan dalam berbagai konflik tersebut atau justru ikut mengalami kerugian.

“Asia Tenggara mempunyai dua kemungkinan, bisa mencari keuntungan dari trade war atau mengalami kerugian dari trade war,”

5. JK menyinggung soal kondisi ekonomi dunia dengan menganalogikannya dengan model celana.

“Kalau rentetan daripada sistem ekonomi, sistem ekonomi itu kayak celana saja, bagian bawahnya itu. Garis ini lebar bawahnya, kemudian kecil setelah 10-20 tahun, kemudian lebar, kemudian kembali lagi kecil,”

6. JK khawatir perlambatan ekonomi dunia akan berdampak pada ekonomi Indonesia. Pasalnya, Dana Moneter Internasional (IMF) kembali memangkas pertumbuhan ekonomi global menjadi tiga persen.

“Perekonomian kita bisa tumbuh di bawah lima persen kalau enggak ada tindakan tegas,”

7. JK mengungkapkan pemerintah tetap harus mewaspadai kemungkinan berlanjutnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Selama Donald Trump masih menjadi Presiden, ekonomi global akan sulit merekah.

“Selama Trump masih menjadi Presiden, rasa-rasanya masih sulit buat ditingkatkan,”

8. JK menilai ekspor dan investasi menjadi kunci untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global tersebut. Dua indikator ini sedang digenjot pemerintah, baik dari sisi perbaikan regulasi maupun pemberian insentif fiskal.

“Kita harus pehatikan. Ke depan bagaimana meningkatkan investasi. Ada tax holiday, tax allowance,”

9. JK menegaskan bahwa tidak terjadi deindustrialisasi di Indonesia saat ini. Meski sektor industri mengalami penurunan dari segi presentase terhadap pertumbuhan ekonomi namun ia mengungkapkan sektor industri masih terus berkembang.

“Ekonomi (secara keseluruhan) memang lebih cepat berkembang, tapi industri juga ikut berkembang. Jadi sektor industri kita berkembang cuman lebih rendah dari yang lainnya. Ini bukan deindustrialisasi”

JK mengakui saat ini beberapa sektor industri memang mengalami perlambatan. Akan tetapi ada beberapa sektor industri justru berkembang sangat pesat. Secara nominal menurutnya sektor tersebut memberi sumbangan yang cukup tinggi terhadap ekonomi nasional.

“Memang dari segi presentase itu menurun tapi yang lain itu naik. Kan persentase itu 100% yang naik itu di pertambangan, mineral dan sawit itu naik,”

10. JK menekankan bahwa masih banyak hal yang harus diperbaiki untuk meningkatkan ekonomi nasional terutama pada perijinan. Menurutnya masalah perijinan di Indonesia memang masih cukup rumit namun dengan kehadiran Online System Submission (OSS) sejak 6 bulan yang lalu sudah ada dampak membaiknya sistem perijinan di Indonesia.
Dikisahkannya bahwa ia pernah punya pengalaman saat menjadi ketua PMI (Palang Merah Indonesia). Untuk mengurus ijin PMI terkait mengirim darah, pihaknya membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Ijin kita ini memang tidak mudah, saya sendiri ketua PMI butuh 4 tahun hanya untuk menyakinkan Depkes dan lembaga lain untuk bisa mengirim darah. Butuh berapa tahum PLN mendapat ijin. Terus terang OSS memang ada itu baru 6 bulan lalu, kita kembangkan

11. JK mengatakan berdasarkan berbagai analisa yang muncul, harus diansitipasi situasi di berbagai belahan dunia yang mungkin memiliki efek bagi dalam negeri.

“Banyak tantangan yang harus kita atasi seperti penurunan ekspor, juga bagaimana kita meningkatkan investasi dan sebagainya. Tingkatkan kemampuan generasi muda di bidang teknologi dan lain-lain, agar terjadi daya saing kuat”

12. Jika Indonesia ingin terlepas dari middle income trap maka harus memprioritaskan produkvitas, pengembangan teknologi serta kualitas SDM.

13. JK mengungkapkan batalnya rencana redenominasi Rupiah atau menghilangkan sejumlah angka nol di mata uang rupiah.

“Memang rencananya dulu merubah rupiah pada zaman Pak Darmin masih Gubernur BI. Tapi dianggap karena itu tidak urgent dibanding masalah waktu itu. Jadi direm dulu,”

Bagikan

Penulis

Media Terkait