Versi
Buku Menavigasi Guncangan Global: Menguji Ketahanan Ekonomi Indonesia mengangkat kondisi ekonomi dunia yang dibayangi oleh tiga tekanan utama, yaitu eskalasi konflik geopolitik, fragmentasi perdagangan dan rantai pasok global, serta risiko perubahan iklim. Konflik di Timur Tengah dan gangguan jalur strategis Selat Hormuz meningkatkan volatilitas harga energi serta biaya logistik internasional. Di saat yang sama, kecenderungan reshoring, friend-shoring, dan proteksionisme memperbesar risiko perlambatan perdagangan dunia dan mengubah peta rantai pasok global.
Bagi Indonesia, gejolak tersebut ditransmisikan melalui kenaikan harga energi, biaya impor bahan baku, pelemahan perdagangan, tekanan nilai tukar, dan meningkatnya ketidakpastian investasi. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia menghadapi risiko peningkatan impor migas, tekanan terhadap neraca perdagangan, kenaikan subsidi energi, serta penyempitan ruang fiskal. Ketergantungan industri pada bahan baku dan barang penolong impor juga membuat sektor manufaktur rentan terhadap keterlambatan pasokan dan kenaikan biaya produksi.
Walaupun ekonomi Indonesia tumbuh kuat pada triwulan I-2026, pertumbuhan tersebut masih banyak ditopang oleh konsumsi musiman Ramadan–Lebaran dan percepatan belanja pemerintah. Di balik capaian tersebut, terdapat sejumlah sinyal kerentanan, antara lain meningkatnya pembiayaan anggaran, tekanan inflasi, pelemahan rupiah, penurunan cadangan devisa, serta menyusutnya surplus perdagangan. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia masih bersifat defensif dan belum sepenuhnya didukung oleh fondasi struktural yang kuat.
Sektor industri menjadi salah satu sektor yang paling terdampak karena tingginya ketergantungan terhadap energi fosil dan bahan baku impor. Industri otomotif, tekstil, elektronik, mesin, kimia, farmasi, plastik, dan karet berpotensi menghadapi kenaikan biaya input, penurunan margin usaha, perlambatan investasi, serta risiko pengurangan kapasitas produksi dan tenaga kerja. Tekanan tersebut juga dapat diteruskan kepada masyarakat melalui kenaikan harga barang, inflasi, dan penurunan daya beli, terutama bagi kelompok kelas menengah yang rentan terhadap kenaikan biaya hidup dan risiko kehilangan pekerjaan.
Kajian ini menegaskan perlunya respons kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada stabilisasi jangka pendek, tetapi juga pada penguatan ketahanan struktural. Prioritas kebijakan mencakup pengurangan ketergantungan impor energi dan bahan baku, penguatan industri hulu dan komponen domestik, diversifikasi pasar ekspor dan sumber impor, perbaikan logistik, penguatan cadangan strategis, serta perlindungan daya beli masyarakat. Dengan strategi yang adaptif dan berbasis bukti, gejolak global dapat menjadi momentum untuk mempercepat transformasi ekonomi Indonesia menuju pertumbuhan yang lebih inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

xii + 134 halaman
23 x 15 cm
Kantor
ITS Tower Lt. 8
Jl. Raya Pasar Minggu KM. 18
Pejaten Timur, Pasar Minggu
Jakarta, Indonesia 12510
Sekretariat
Alamat Surat
Jl. Batu Merah No.45
Pejaten Timur, Pasar Minggu
Jakarta, Indonesia 12510
Partner Kami