Perlambatan Ekonomi Global dan Dampaknya pada Indonesia
INDEF menyoroti dampak negatif dari perang dagang lanjutan antara negara besar dan konflik geopolitik Iran-Israel terhadap ekonomi global. Hal ini menyebabkan perlambatan ekonomi nasional yang tercermin dari menurunnya pertumbuhan ekonomi menjadi 4,87%, lebih rendah dari target 5,2%. INDEF memproyeksikan pertumbuhan hanya mencapai 4,5% pada akhir 2025 akibat lemahnya konsumsi rumah tangga dan pemerintah, serta pertumbuhan investasi yang rendah.

Tekanan terhadap Perdagangan dan APBN
Struktur ekspor Indonesia dinilai lemah karena bergantung pada bahan mentah dan produk yang kurang kompetitif. Risiko tuduhan dumping dari AS terhadap barang China yang masuk lewat Indonesia turut menjadi perhatian. Sementara itu, tekanan global juga berdampak pada APBN, dengan melambatnya pendapatan negara, meningkatnya belanja, dan kenaikan cicilan utang karena depresiasi rupiah dan lonjakan yield SBN.

Kerentanan Energi dan Ketergantungan Pangan
Sektor energi menghadapi risiko tinggi karena ketergantungan pada impor BBM dari Timur Tengah yang tidak stabil. INDEF mendorong diversifikasi energi melalui elektrifikasi dan pengembangan energi terbarukan. Di sisi pangan, ketergantungan pada komoditas impor seperti gandum dan kedelai memperbesar risiko terhadap fluktuasi harga global, yang diperparah oleh krisis pupuk dan stagnasi subsektor tanaman pangan.

Kebijakan Moneter dan Masalah Ketenagakerjaan
Moneter ketat sebagai respons terhadap tekanan nilai tukar dan capital outflow mengakibatkan perlambatan intermediasi perbankan. Kredit tumbuh rendah, likuiditas mengetat, dan ekonomi kehilangan momentum akselerasi. Di sektor ketenagakerjaan, meskipun pengangguran terbuka menurun, angka pekerja informal dan pengangguran terselubung meningkat, menunjukkan kualitas lapangan kerja yang rendah dan risiko memburuk akibat pelemahan sektor padat karya.

Rekomendasi Kebijakan
INDEF menekankan pentingnya respons strategis lintas sektor untuk menghadapi tantangan global. Indonesia perlu memperkuat ketahanan domestik melalui bauran kebijakan perdagangan, industri, energi, pangan, fiskal, dan moneter yang adaptif agar mampu menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi menuju visi Indonesia Emas 2045.

Bagikan

Penulis

Video

Publikasi Terkait