Surplus Neraca Perdagangan Semu

Tim Peneliti INDEF | 30/07/2018


Sepanjang semester I 2018, neraca perdagangan masih tercatat defisit US$1,02 miliar, kendati pada Juni 2018 mendapat raihan surplus. Namun surplus tersebut bukan disebabkan oleh membaiknya kinerja ekspor, melainkan lebih disebabkan oleh penurunan impor yang lebih besar. Selama Juni 2018, total ekspor Indonesia turun sebesar 19,80 persen dibanding Mei 2018. Sementara itu impor turun hingga mencapai 36,27 persen.

Turunnya ekspor pada bulan ini lebih disebabkan oleh sektor non migas yang merosot hingga 22,57 persen (Grafik 1). Anjloknya ekspor non migas tersebut dikarenakan tekanan dari ekspor Industri pengolahan yang turun 27,28 persen dan pertanian yang turun 35,2 persen. Ketergantungan ekspor terhadap komoditas dan negara tujuan masih sangat terlihat dalam kinerja ekspor hingga saat ini.

grafik pertumbuhan ekspor impor juni 2018

Di sisi lain, turunnya impor dapat menjadi sinyal kelesuan ekonomi domestik yang terlihat dari merosotnya impor barang konsumsi, bahan baku dan barang modal. Sehingga secara total impor non migas dan non migas turun masing-masing 38,23 persen dan 26,11 persen (Grafik 1).

Penurunan harga pada beberapa komoditas (kelapa sawit dan karet) pada triwulan II 2018 tentu menjadi ancaman bagi kinerja ekspor Indonesia yang masih bergantung pada komoditas. Dependensi pada ekspor komoditas akan menghadapi persaingan dari negara-negara pengekspor produk yang sama. Pada beberapa kasus, ekspor komoditas seringkali bersinggungan dengan isu lingkungan, yang berujung pada pengenaan hambatan-hambatan ekspor baik tariff maupun nontariff. Misalnya kasus CPO yang mengalami hambatan tariff dari Uni Eropa.

Minimnya diversifikasi produk ekspor akan menyulitkan Indonesia untuk memanfaatkan peluang dari permintaan global (perbaikan pertumbuhan ekonomi global) dan momentum depresiasi nilai tukar. Telah diketahui, menurut teori perdagangan internasional bahwa depresiasi mata uang lokal terhadap dollar seharusnya dapat meningkatkan daya saing ekspor suatu produk karena menurunnya harga relatif di pasar global. Namun hal ini tidak berlaku bagi Indonesia, di tengah pelemahan rupiah terhadap dollar, justru ekspor semakin tertekan. Inilah dampak apabila dari suatu negara sangat bergantung terhadap beberapa komoditas dan kurang memiliki diversifikasi produk ekspor.

Di sisi impor, penurunan impor bahan baku yang membuat porsinya semakin menyusut perlu diwaspadai. Hal ini menunjukkan semakin rendahnya permintaan bahan baku industri di dalam negeri dan dapat mengancam perlambatan industri. Di sisi lain, sejak 5 tahun terakhir perlahan tapi pasti, porsi impor barang konsumsi mengalami kenaikan. Ke depan, pilihan yang rasional untuk memperbaiki kinerja perdagangan dan industri salah satunya adalah dengan menerapkan langkah nyata dan tegas untuk mengendalikan impor pada kelompok barang konsumsi yang diiringi pemberian berbagai bentuk insentif ekspor produk industri.

grafik 2 nilai ekspor dan impor mei-juni 2018