Inflasi Di Tengah Keperkasaan Dolar

Tim Peneliti INDEF | 02/08/2018



Inflasi yang terjadi sepanjang Juli 2018 mencapai 0,28 persen, lebih tinggi dari tingkat inflasi Juli 2017 yang mencapai 0,22 persen. Inflasi pada Juli ini lebih didorong oleh kelompok bahan makanan yang mengalami inflasi 0,86 persen serta pendidikan, rekreasi dan olahraga yang mengalami inflasi sebesar 0,83 persen (Grafik 1). Penyebab tingginya inflasi pada kelompok bahan makanan dipicu oleh kenaikan harga telur dan daging ayam yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,08 persen dan 0,07 persen. Kemudian diikuti beberapa komoditas bumbu-bumbuan dan sayuran seperti cabe rawit 0,03 persen, kacang panjang 0,02 persen, serta untuk bayam, tomat, jeruk yang sebesar 0,01 persen.

Melejitnya harga telur ayam disebabkan berkurangnya pasokan secara signifikan. Hal ini sebagai dampak dari pembatasan impor induk Day Old Chicken (DOC). Selain itu, harga pakan juga meningkat di tengah depresiasi rupiah. Dalam kondisi seperti ini Pemerintah tidak punya kekuatan untuk mengontrol harga serta masih minimnya upaya pemerintah dalam menjaga pasokan di sisi produksi.

Di sisi lain, memasuki Juli 2018 terdapat musim liburan anak sekolah yang diikuti tahun ajaran baru, hal ini mendorong naiknya permintaan akan rekreasi dan kebutuhan sekolah. Meningkatnya permintaan terhadap kelompok pengeluaran tersebut berdampak terhadap inflasi pada kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga. Hal ini dibuktikan dengan data inflasi pada subkelompok sandang anak-anak sebesar 0,54 persen. Selain itu, kenaikan harga BBM jenis tertentu per 1 Juli juga memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen.

agustusmonthly2

Jika merujuk pada inflasi berdasarkan komponen, inflasi inti memberikan andil terbesar yakni mencapai 0,24 persen. Sementara tingkat inflasi inti pada Juli 2018 mencapai 0,41 persen (Grafik 2), tertinggi sejak Februari 2017 dan inflasi inti tahunan (y-o-y) sebesar 2,87 persen (tertinggi sejak Januari 2018). Tingginya inflasi inti pada Juli 2018 ini disebabkan karena faktor depresiasi rupiah dan kenaikan harga minyak yang membuat naiknya harga barang impor. Selain itu tekanan dari sisi domestik seperti kenaikan tarif pulsa juga mendorong peningkatan inflasi inti.

Depresiasi rupiah terhadap dollar Amerika Serikat sepanjang Juli 2018 (y-o-y) sudah mencapai 8,03 persen. Lebih besar dari depresiasi Juni 2018 (y-o-y) yang mencapai 7,36 persen dan Mei 2018 (y-o-y) yang mencapai 4,3 persen. Keperkasaan dolar terhadap rupiah dikhawatirkan akan terus berlanjut dan berdampak serius terhadap tingkat inflasi. Di lain hal, inflasi pada komponen barang bergejolak mencapai 0,18 persen, energi 0,06 persen dan harga yang diatur pemerintah mengalami deflasi 0,68 persen.

Secara umum, permasalahan pangan dan depresiasi nilai tukar menjadi penyebab tinggi inflasi dibandingkan periode sebelumnya. Upaya untuk menjaga kepastian pasokan berbagai bahan pangan sangat dinantikan oleh publik. Selain itu pemerintah juga perlu untuk terus memperbaikin jalur tata niaga pangan serta meningkatkan validitas dan akurasi data pangan antara kebutuhan dan produksi agar kebijakan yang diambil tidak misleading. Di sisi moneter, upaya meredam keperkasaan dollar sangat urgent untuk menekan cost push inflation yang dipicu oleh harga bahan pakan naik akibat bahan baku pakan yang sebagian besar dipenuhi oleh impor terkena dampak depresiasi rupiah.

agustusmonthly