Impor Melejit, Ekonomi Defisit

Tim Peneliti INDEF | 31/08/2018


Pada Juli 2018, perdagangan luar negeri Indonesia kembali mengalami defisit. Defisit kali ini semakin mengkhawatirkan karena telah menembus US$2,03 miliar dan merupakan defisit bulanan yang tertinggi sejak Juli 2013. Lebih dari itu, lonjakan impor yang mencapai 62,17 persen (m-to-m) kian membuat defisit semakin lebar. Tingginya lonjakan impor tersebut menjadikan nilai impor pada Juli 2018 mencatat rekor tertinggi sejak Juli 2013, dimana nilainya mencapai US$18,27 miliar (Grafik 1).

Peningkatan impor utamanya didorong oleh melonjaknya impor kelompok barang besi dan baja (HS 72) yang meningkat 153,51 persen (m-to-m). Sepanjang Januari-Juli 2018, impor kelompok barang tersebut telah meningkat 36,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017. Selain itu, kelompok bahan kimia organik juga mengalami peningkatan impor yang cukup signifikan hingga mencapai 110,15 persen (m-to-m). Dilihat berdasarkan golongan barang, peningkatan impor pada Juli 2018 terjadi pada semua kelompok. Impor barang modal mencatatkan pertumbuhan tertinggi yang mencapai 71,95 persen (m-to-m), diikuti dengan impor barang konsumsi 70,5 persen (m-to-m) dan impor bahan baku/penolong 59,28 persen (m-to-m).

Grafik 1.  Perbandingan Nilai Impor Bulan Juli (U$S Dollar) 

Grafik 1.  Perbandingan Nilai Impor Bulan Juli (U$S Dollar)

Sumber: BPS (2018)

DIlihat berdasarkan Negara asal, impor sektor non migas dari Malaysia pada Juli 2018 meningkat cukup signifikan yakni mencapai 108,01 persen, sehingga secara kumulatif (Januari-Juli) impor dari negara tersebut telah meningkat 21,78 persen (y-o-y) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara, ekspor Indonesia ke Malaysia sepanjang Januari-Juli hanya meningkat 12,45 persen (y-o-y). Peningkatan impor yang cukup signifikan juga terjadi dari China. Pada Juli 2018, impor dari China meningkat 93,44 persen (m-to-m) sementara ekspor Indonesia ke China hanya meningkat 6,87 persen (m-to-m).

Secara keseluruhan impor Indonesia sepanjang Januari-Juli 2018, impor Indonesia telah mencapai US$18,27 miliar sementara ekspor secara total baru mencapai US$16,24 miliar. Hal ini tentu membuat neraca perdagangan secara keseluruhan tercatat defisit US$3,08 miliar. Defisit ini terjadi pada kelompok migas dan non migas dimana masing-masing mencatatkan defisit sebesar US$1,18 dan U$S0,84 miliar.

Melebarnya deficit neraca perdagangan tentu akan membuat defisit transaksi berjalan yang semakin besar dan memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Hingga Juli 2018, rupiah telah terdepresiasi sebesar 8 persen dibandingkan Juli 2017. Sementara defisit transaksi berjalan pada semester I 2018 telah mencapai US$13.75 miliar. Perlu upaya serius yang menyeluruh untuk meredam defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan. Selain upaya mengendalikan impor, strategi perluasan ekspor juga harus dijalankan secepatnya. Pemerintah perlu mentargetkan seluruh perwakilannya di luar negeri untuk memperluas dan membuka akses pasar baru dengan cara mengindentifikasi kebutuhan produk, informasi jaringan distribusi dan hambatan perdagangan di setiap negara.

 

Grafik 2.  Perbandingan Neraca Perdagangan Bulan Juli (U$S Miliar)

Grafik 2.  Perbandingan Neraca Perdagangan Bulan Juli (U$S Miliar)

Sumber: BPS (2018)