Kasus PT Indo Beras Unggul (IBU) yang diduga membeli beras subsidi dari petani dengan harga yang lebih tinggi, tengah menjadi sorotan publik. Pemerintah menuding beras yang diproduksi PT IBU dijual kepada konsumen dengan harga eceran yang lebih mahal ketimbang harga eceran pemerintah.

Dua merek beras produksi PT IBU, yakni Maknyuss dan Cap Ayam Jago masing-masing dijual di pasar modern dengan harga Rp 13.700 dan Rp 20.400 per kilogram. Pihak satgas pangan menilai kedua beras tersebut merupakan beras yang produksinya disubsidi pemerintah.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) angkat bicara soal kasus ini. Direktur Utama Indef, Enny Sri Hartati, menyoroti kasus PT IBU dari skema subsidi yang dilakukan pemerintah dalam proses produksi beras petani selama ini.

Menurut Enny, subsidi merupakan langkah yang tepat, bertujuan untuk mengurangi beban produksi yang ditanggung petani. Namun berjalannya waktu, subsidi input yang dilakukan pemerintah mulai dari penyediaan pupuk, bibit, hingga alat pertanian dinilai kurang efektif diterima petani.

“Subsidi input yang semula bertujuan untuk mengurangi beban biaya produksi yang ditanggung petani, malah masih cukup tinggi. Bahkan lebih tinggi dari negara lain,” ujar Enny, di Kantor Indef, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (27/7).
Enny menjelaskan bahwa biaya produksi padi petani Indonesia saat ini Rp 4.709/Kg terbilang cukup tinggi. Sebab, jika dilihat dari negara lain yang memiliki produksi beras yang cukup tinggi seperti Vietnam, angka tersebut 2,5 kali lebih tinggi dari biaya produksi padi petani Vietnam sebesar Rp 1.679/ Kg.

“Misal Vietnam (biaya produksi padi) Rp 1.679/ Kg, persoalanya mengapa subsidi input kita enggak berdampak efisien?. Yang dikambinghitamkan luas lahan kita, memang betul, tapi minimal kalau ada subsidi input enggak sampai 2,5 kali Vietnam,” ujarnya.

Sumber:kumparan.com

Indef

The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta

Leave a Reply

Close