JAKARTA– Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) terdapat 6 permasalahan utama yang masih dihadapi Indonesia selama 10 tahun terakhir yaitu dari 2004-2014.

Direktur INDEF Enny Sri Hartati mengatakan, keenam permasalahan tersebut adalah Ketahanan Pangan, Ketahanan Energi, Ketimpangan Ekonomi, Absennya kebijakan yang pro UMKM, Lambatnya pembangunan infrastruktur, dan Keenam Perbandingan investasi riil dan portfolio yang masih timpang.

Enny menjelaskan untuk masalah ketahanan pangan, Indonesia masih menempati peringkat 70 dalam hal kualitas pangan, kalah saing dengan India, Vietnam bahkan Singapura. Kebutuhan komoditas pangan strategis seperti beras, jagung, kedelai, gula dan daging masih mengandalkan impor meskipun neraca perdagangan di sektor pertanian masih surplus.

Enny menilai target swasembada beras 10 juta ton di tahun 2014 tidak akan tercapai apabila tidak ada upaya peningkatan produktifitas pertanian begitu juga target pencapaian produksi jagung 24 juta ton tidak akan tercapai jika semua kebijakan insentif peningkatan produksi belum dilaksanakan secara konsisten.

Untuk ketahanan energi, indonesia masih bermasalah pada proporsi subsidi energi yang terus membengkak dimana subsidi BBM paling besar. Menurutnya hal ini dikarenakan Indonesia mengalami ketergantungan konsumsi BBM.

Dia mengatakan, produksi minyak juga terus mengalami penurunan di tengah konsumsi BBM yang terus meningkat, tidak hanya subsidi BBM yang masih bermasalah, besarnya subsidi listrik tidak diimbangi dengan produksi listrik yang memadai. Kapasitas produksi listrik per kapita di Indonesia hanya mencapai 2000 kilowatt/kapita masih dibawah Tiongkok, Brazil, India.

Enny menuturkan permasalahan lain yang dihadapi adalah ketimpangan ekonomi dimana terjadi ketimpangan antara sektor tradeable dan non tradeable. Menurutnya sumber pertumbuhan ekonomi di dominasi oleh sektor non tradeable.

“Sektor industri mengalami penurunan pertumbuhan yang cukup drastis, hal ini dikarenakan kebijakan dan startegi pembangunan industri di Indonesia masih lemah,” ujar dia ketika ditemui dalam acara ” Konferensi Pers INDEF mengenai Merebut Momentum dan Membalik Keadaan” di Restoran Pulau Dua, Jakarta, Rabu (2/4).

Enny mengatakan kebanyakan industri yang berkembang adalah industri yang mempunyai daya saing rendah karena ketergantungan bahan baku, barang modal dan teknologi impor.

Dia mengatakan Indonesia juga mempunyai permasalahan dengan kebijakan UMKM yang masih minim dimana para pelaku UMKM sangat sulit mendapatkan akses pendanaan. Keterbatasan teknologi dan manajemen yang masih tradisional juga menyebabkan produk UMKM tidak efisien dan sulit bersaing dengan produk impor.

Enny menjelaskan satu lagi permasalahan yang masih dihadapi Indonesia selama 10 tahun terakhir adalah pembangunan infrastruktur yang lambat. 

Lambatnya pembangunan infrastruktur menyebabkan buruknya kualitas infrastruktur yang tercermin dari indeks infrastruktur Indonesia yang berada pada peringkat 61. Jika hal ini terus dibiarkan maka potensi Indonesia menjadi magnet investasi bisa menurun. 

Enny mengatakan Indef juga menemukan perbandingan investasi riil dan portfolio di Indonesia masih timpang. Investasi asing yang masuk ke Indonesia memang mengalami peningkatan yang cukup besar triwulan 1 2014 modal asing sudah mencapai Rp 38 triliun tapi sayangnya porsi terbesar dana investor asing dalam bentuk surat utang negara dan saham (hot money) yang dapat ditarik sewaktu waktu.

Investasi portfolio memang dapat mendongkrak nilai rupiah namun kecil kemungkinan dapat meningkatkan kinerja di sektor riil.

Konsisten dan sinergitas
Enny mengatakan butuh kebijakan yang benar-benar konsisten dan sinergitas antar sektor/lembaga serta pusat dan daerah agar keenam permasalahan tersebut bisa diatasi.

Dia mengatakan ada beberapa solusi yang bisa dilakukan pemerintah, untuk menciptakan ketahanan pangan pemerintah bisa melakukan reforma agraria dimana manajemen usaha tani ditingkatkan serta melakukan diversifikasi pangan yang berbasis pemanfaatan teknologi dan industri.

Untuk ketahanan energi percepatan penyediaan energi alternatif dan peningkatan pasokan energi di luar pulau jawa.

Dia menuturkan strategi percepatan infrastruktur dapat dilakukan dengan membentuk lembaya pembiayaan infrastruktur terutama BUMN dan menjamin kepastian lahan untuk pembangunan infrastruktur.

Untuk UMKM, pemerintah bisa memperbanyak perusahaan penjaminan kredit yang berfungsi untuk menjamin pemenuhan kewajiban finansial UMKM.

Enny menjelaskan untuk mencegah terjadinya ketimpangan ekonomi pemerintah bisa terus mendorong sektor manufaktur.

Sedangkan untuk investasi riil pemerintah harus bisa mengatasi hambatan investasi khususnya pembebasan lahan. “Jika semua kebijakan dilakukan dengan komitmen yang tinggi maka Indonesia akan menjadi negara maju,” ujar dia. (dho)


Sumber: investordaily.com

  • Berita/Post
Indef Administrator
, Indef
The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta
follow me

Leave a Reply

Close