TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Laju rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin melemah. Atas kondisi ini, para pengusaha dihimbau untuk melakukan lindung nilai atau hedging terhadap utangnya yang bermata uang dolar AS.

Pengamat Ekonomi Aviliani mengatakan, pengusaha perlu memaspadai beban utang-utangnya yang berbentuk dolar AS, terlebih utang jangka panjangnya yang dapat menekan kinerja keuangan ke depan.

“Perlu dihedging, karena nilai tukar sulit untuk diprediks. Jadi bukan hanya faktor domestik, juga faktor eksternal yang dapat menguatkan dolar AS dan melemahkan mata uang lainnya,rupiah cukup tinggi pelemahannya,” kata Aviliani kepada Tribunnews.com, Jakarta, Senin (2/3/2015).

Selain pihak swasta yang melakukan hedging, kata Aviliani, pemerintah juga perlu bertindak tepat dalam menahan pelemahan rupiah. Seperti, mengontrol devisa negara dan tidak melakukan penerbitan obligasi.

“Kenapa engak obligasi, karena kan kalau obligasi yang beli asing. Nanti volatilitas rupiah bisa makin tinggi naik turunnya, ini berbahaya. Lebih baik pemerintah utang luar negeri saja,” ucapnya.

Sebelumnya Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo mengatakan, pelemahan mata uang terhadap dolar AS, bukan terjadi kepada rupiah saja tetapi juga mata uang lainnya. Namun, dirinya mengingatkan agar kepada pengusaha yang memiliki utang bentuk dolar AS untuk melakukan lindung nilai.

“Saya sudah ingatkan untuk yang punya pinjaman utang luar negeri yang tidak dilakukan lindung nilai untuk berhati-hati, kelola dengan sehat utang luar negerimu,” ujar Agus.

Kurs tengah Bank Indonesia mencatat, rupiah saat ini di level Rp 12.993 atau melemah dari hari sebelumnya Rp 12.863 per dolar. Sementara data Bloomberg pada sore ini, rupiah di posisi Rp 12.970 per dolar AS.

Sumber: http://www.tribunnews.com/

Indef

The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta

Leave a Reply

Close