Kasus peledakan bom di Bali tidak hanya merupakan tragedi kemanusian yang bersifat lokal Bali, tetapi juga merupakan tamparan bagi Indonesia sebagai bangsa dan puncak keprihatinan bagi seluruh umat manusia yang mencintai kedamaian dan persahabatan yang luhur. Ini merupakan ujian yang berat bagi bangsa dalam upaya pemberantasan terorisme, konflik dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya. Air mata dan darah dari segenap penjuru dunia telah dicucurkan, dan kesabaranpun mungkin akan segera habis. Akankah kita mampu mengatasinya?

Satu hal yang pasti adalah bahwa kita merupakan bangsa yang tidak berdaya dalam menghadapi berbagai masalah yang merundung selama lima tahun terakhir; krisis ekonomi, transformasi sosial-politik, konflik etnis, gerakan separatisme dan terorisme. Sebagian karena kebebalan kita –dan terutama politisi yang sama sekali tidak memiliki sense of crisis dan sense of emergency –dan sebagian lagi karena masalah-masalah tersebut memang terlalu pelik untuk dipecahkan dalam waktu yang singkat dan tanpa bantuan siapapun.

Secara ekonomi, kasus bom Bali akan memiliki dampak yang dahsyat melalui tiga hal berikut. Pertama, secara lokal perkonomian Bali yang berbasis pada industri pariwisata akan terpukul. Kedua, secara sektoral kinerja sektor pariwisata dan industriindustri yang terkait dengannya seperti transportasi, perhotelan, restoran, dan kerajinan rakyat akan terpengaruh secara negatif. Ketiga, ekonomi nasional pada gilirannya akan terpengaruh terutama karena meningkatnya country risk yang akan menyebabkan meningkatnya suku bunga, turunnya investasi, dan semakin kritisnya posisi fiskal karena penerimaan pajak akan menurun sedangkan beban pembayaran utang dalam dan luar negeri akan meningkat. Ekonomi Bali yang berbasis pada pariwisata jelas akan mengalami stagnasi akibat ketidakpastian akan jaminan keamanan bagi para turis. Selama ini industri pariwisata di Bali tidak pernah menyurut walaupun Indonesia mengalami krisis ekonomi yang berat dan konflik horizontal. Bagi wisatawan, Bali merupakan tempat yang teraman dan bahkan seakan terpisah dari wilayah Indonesia. Dulu, Bali merupakan pulau yang dijuluki surga dewata. Sekarang, predikat itu sudah sirna oleh terorisme. Selama pemerintah tidak mampu menunjukan kemampuannya bahwa terror tidak akan pernah terulang lagi, predikat Bali sebagai surga bagi turis tidak akan pernah kembali.

Pangsa industri pariwisata terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Bali adalah sekitar 37 persen atau merupakan kontributor terbesar dibanding dengan sektorsektor lainnya. Dengan melihat forward dan backward linkage dari sektor pariwisata, maka jika jumlah kunjungan wisatawan berkurang sebesar 50 persen maka diperkirakan ekonomi Bali secara keseluruhan akan mengalami kontraksi sebesar tidak kurang dari 20 persen. Dengan skenario seperti ini tampaknya ekonomi daerah ini akan betul-betul terpuruk jika pemerintah tidak melakukan tindakan yang diperlukan untuk mengembalikan confidence dari para wisatawan. Jika ini betul-betul terjadi, maka resisi lokal akan merupakan resisi yang terburuk yang pernah terjadi sepanjang sejarah propinsi tersebut. Perlu diingat juga bahwa Bali selain jadi pusat pariwisata, ia juga merupakan pintu gerbang ekspor hasil-hasil industri kecil seperti garmen etnis, mebel dan berbagai jenis kerajinan rakyat dari berbagai pelosok Indonesia.

Indef

The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta

Leave a Reply

Close