Jakarta–Penurunan outlook Indonesia dari dua
lembaga rating internasional diduga karena untuk kepentingan tertentu.
Apa alasannya? “Saya melihat ada nuansa kepentingan tertentu dari
lembaga rating dengan masuk ke isu penaikan harga BBM (subsidi). Mereka
tidak lagi murni melakukan penilaian, tapi ada tujuan tertentu,” kata
pengamat ekonomi yang juga guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya Malang, Ahmad Erani Yustika kepada INILAH.COM awal
pekan ini.

Menurut Erani, dugaan adanya kepentingan tertentu
dengan adanya desakan kepada pemerintah untuk menyesuaikan harga BBM.
Karena itu, dirinya mengingatkan kepada pemerintah agar dalam mengambil
kebijakan tetap berdasarkan pada kalkulasi yang matang. Jadi, bukan
karena faktor tekanan dari lembaga pemeringkat rating.

“Saya
tidak mempersoalkan pemerintah mau menaikkan atau tidak, tapi jangan
membuat keputusan karena faktor dari luar, tapi karena kemandirian.
Karena, kenaikan harga BBM seakan-akan itu merupakan hal yang paling
dikehendaki negara-negara maju, supaya kita menaikkan harga BBM. Itu
yang saya lihat begitu,” ujar Erani.

Menurut Erani, adanya
kepentingan dari outlook lembaga pemeringkat rating dunia tersebut
adalah, kegiatan ekonomi di Indonesia diserahkan kepada mekanisme pasar
dunia, bukan lagi bersubsidi. “Dengan cara itulah mereka berharap
kepanjangan tangan dari negara maju lebih mudah untuk menyerang ekonomi
Indonesia. Karena dengan kenaikan harga BBM daya saing komoditas menjadi
lebih turun, karena ada kenaikan biaya produksi misalnya,” kata Erani.

Dengan kajian terhadap rating utang tersebut, pemerintah tidak perlu
terlalu mengkhawatirkan dampaknya. “Pertumbuhan ekonomi yang turun itu
penyebabnya banyak, bukan saja karena satu faktor tertentu. Ada faktor
penyerapan anggaran, ekspor yang turun, ada krisis ekonomi global dan
masih banyak lagi,” ujar Erani.

Pemerintah telah menurunkan
target pertumbuhan ekonomi menjadi 6,3%, dari target sebelumnya sebesar
6,7%-6,8% pada tahun ini. Pada awal pekan ini, lembaga pemeringkat
Moody’s Investors Service memperingkatkan bahwa ketidakmampuan
pemerintah Indonesia mereformasi kebijakan subsidi BBM, akan berdampak
negatif bagi peringkat utang.

Analis Senior Moody’s Investors
Service Singapore Christian de Guzman mengatakan, saat ini Moodys masih
mempertahankan peringkat Indonesia di Baa3 dengan outlook stabil. Hal
ini mengikuti lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor’s
(S&P) pada Kamis (2/5/2013) lalu melakukan afirmasi Sovereign Credit
Rating Indonesia pada level BB+ long-term dan B short-term serta
merevisi outlook Republik Indonesia menjadi stabil dari positif.

Kebijakan pemerintah Indonesia terdapat kelemahan implementasi
kebijakan yang mengurangi dukungan terhadap prospek pertumbuhan ekonomi
dan kondisi perekonomian secara umum. Di samping itu, kondisi eksternal
perekonomian juga mengalami kerentanan yang ditunjukkan oleh defisit
transaksi berjalan serta peningkatan utang luar negeri sektor swasta. [air]

Sumber : Inilah.com – Kamis, 9 Mei 2013

  • Berita/Post
Indef Administrator
, Indef
The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta
follow me

Leave a Reply

Close