Kajian Tengah Tahun INDEF 2015: Kredibilitas Kebijakan di Persimpangan

Rp 100.000

Kajian Tengah Tahun (KTT) INDEF 2015 bertepatan dengan perlambatan ekonomi Indonesia yang di luar ekspektasi. Boleh dikatakan, ekonomi Indonesia pada triwulan 1-2015 masuk zona kuning. Pertumbuhan ekonomi melambat, daya beli masyarakat turun, pertumbuhan energi anjlok, kinerja ekspor turun, rupiah terdepresiasi terparah dibanding mata uang Negara kawasan, pengangguran meningkat merupakan indikator yang harus diwaspadai.

SKU: 979-97810-28 Category: Tags: ,

Description

Kajian Tengah Tahun (KTT) INDEF 2015 bertepatan dengan perlambatan ekonomi Indonesia yang di luar ekspektasi. Boleh dikatakan, ekonomi Indonesia pada triwulan 1-2015 masuk zona kuning. Pertumbuhanekonomi melambat, daya beli masyarakat turun, pertumbuhan energi anjlok, kinerja ekspor turun,rupiah terdepresiasi terparah dibanding mata uang Negara kawasan, pengangguran meningkat merupakan indikator yang harus diwaspadai.

Memburuknya berbagai indikator utama perekonomian tersebut, menjadi tantangan bagi Pemerintahan Jokowi-JK untuk mengimplementasikan program Nawacitanya. Di atas kertas, program Nawacita Jokowi-JK memberikan banyak harapan untuk perbaikan struktur perekonomian, yaitu target untuk meningkatkan produktifitas dan daya saing.  Utamanya peningkatan suplai produksi dalam negeri dalam menggerakkan sektor industri melalui rencana pembangunan minimal 10 kawasan industri baru.  Peningkatan efisiensi logistik nasional dimulai dengan tekad menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Program-program tersebut yang dijanjikan guna mewujudkan peningkatan kesejahteraan dan mengurangi  pengurangan dan kemiskinan.Sayangnya, sementara ini masih berupa harapan, realisasinya pasti tidak bisa instan dan jangka pendek.

Kajian ini berupaya memberikan referensi bagi Pemerintahan Jokowi-JK agar menjadi nahkoda yang  bijak, handal dan berani dalam menahkodai perahu besar Indonesia. Siap  mengarungi laut perekonomian dan menakhlukkan tantangan domestik dan global yang sedang bergelombang tinggi. Lebih lanjut, melalui kajian ini diharapkan Presiden Jokowi mampu mengarahkan bahtera Indonesia menuju jalan keluar dari gelombang tinggi, tidak terjebak dalam pusaran gelombang yang bisa menghantam hancur leburnya perahu.

Penulis
Tim INDEF

Close