VARIA.id, Jakarta – Pisang mengandung nutrisi yang penting. Selain kaya karbohidrat dan potasium, pisang berlimpah vitamin A.  Jika dikonsumsi secara rutin, pisang bisa mencegah sejumlah penyakit seperti jantung, diabetes, anemia, dan maag. Buah ini juga bermanfaat melancarkan peredaran darah, meningkatkan perasaan positif, juga tokcer untuk mengatasi gatal akibat gigitan nyamuk.

Sayangnya, buah yang sekaya itu nutrisinya belum jadi primadona di Indonesia. Tingkat konsumsi pisang masyarakat masih rendah seiring keengganan menyantap buah dan sayur. Tingkat konsumsi buah per kapita masyarakat Indonesia mencapai 34,55 kg/tahun. Belum ada separuhnya dibanding standar yang disarankan Organisasi Pangan Dunia (FAO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 73 kg/tahun.

Pengamat ekonomi pertanian Bustanul Arifin menengarai, rendahnya tingkat konsumsi pisang juga buah-buahan lainnya boleh jadi disebabkan masalah pemasaran. Pisang-pisang yang berasal dari kebun para petani belum dipasarkan secara merata ke seluruh Indonesia. Jadi, percuma saja ada kampanye makan pisang jika barangnya tak mencukupi kebutuhan pasar.

“Harus diupayakan bagaimana caranya pisang bisa menghasilkan keuntungan dan memenuhi permintaan pasar,” kata peneliti Institute for Development of Economic (Indef) ini, di Jakarta, Jumat, 13 Februari 2015.

Menurut dia, Indonesia belum memiliki perkebunan pisang berskala besar. Sementara pisang yang dihasilkan perkebunan berskala kecil umumnya belum memenuhi standar mutu. Pemerintah pun masih abai soal ini. Dus, nyaris mustahil Indonesia bisa merajai industri pisang dalam waktu dekat.

Sebab itu, harapan untuk mengembangkan pisang terpaksa digantungkan kepada swasta. Memiliki beragam varietas, Indonesia potensial sebagai produsen utama pisang. Swasta harus memanfaatkan hal ini. Pemerintah tinggal memuluskannya dengan akses pembiayaan dan mengontrol kualitas melalui penerapan standardisasi.

“Pemerintah juga mesti mengawasi penjualan dan distribusi pisang agar tak merugikan petani,” tambah Bustanul.

Terpenting, rasa dan kualitas

Salah satu pemain bisnis pisang, PT Sewu Segar Nusantara, mengungkapkan ihwal susahnya memasarkan pisang secara merata ke wilayah Nusantara. Peredaran pisang bermerek Sunpride yang diproduksi Sewu Segar Nusantara lebih banyak berputar di Jawa, terutama di Jabodetabek. Dalam sepekan, sedikitnya 540 ton pisang terjual di wilayah itu.

Menurut Global Source Manager Sunpride, Lexy Ardhyan, wilayah timur belum dikuasai betul karena mahalnya biaya distribusi. Biaya mengirim pisang Sunpride ke Maluku, Papua dan sekitarnya lebih besar ketimbang biaya ekspor. Selama ini pihaknya hanya bisa bersiasat melalui kerja sama dengan ritel.

“Meskipun banyak kendala, kami tetap berupaya memasarkannya ke Indonesia bagian timur,” katanya.

Bagi Sunpride, pisang tak boleh loyo. Pisang yang nampak segar akan lebih menarik konsumen. Sebab itulah, Sunpride berani membangun laboratorium khusus untuk menjaga standar mutu dan rasa pisang yang diproduksinya. Dari bibit varietas terbaik, pisang ditanam dengan sistem kultur jaringan. Hasilnya,  beragam jenis pisang berkualitas tinggi seperti cavendish, pisang kepok, pisang tanduk, raja bulu, barangan, dan pisang ambon. Sebelum dipasarkan, pisang-pisang itu diuji standarnya di laboratorium.

Lexy mengungkapkan, standar mutu yang terjaga menjamin Sunpride bisa masuk ke pasar luar negeri. Selama setahun belakangan, pisang cavendish yang diproduksi di Terbangi, Lampung diekspor sebanyak 100 kontainer ke China dan Timur Tengah.

“Selain memproduksi sendiri, Sunpride bekerja sama dengan petani, misalnya, di Lumajang, Jawa Timur. Kami ingin membantu petani memasarkan hasil pertanian mereka,” katanya. *


Sumber: http://www.varia.id/

  • Berita/Post
Indef Administrator
, Indef
The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta
follow me

Leave a Reply

Close