Pemilihan Umum (Pemilu) legislatif dan pemilihan presiden/wakil
presiden akan dilaksanakan pada 2014 mendatang. Sebagai tahun politik,
2014 mendatang tak bisa diharapkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sejumlah agenda perekonomian bakal terhambat.

Penilaian itu disampaikan Direktur Institute for Development of Economics and Finance
(Indef) Ahmad Erani Yustika dalam Seminar Nasional Proyeksi Ekonomi
Indonesia di Jakarta, Selasa (26/11). “Pertumbuhan ekonomi tahun depan
tidak bisa diharapkan banyak,” ucapnya.

Dikatakan Erani, perlambatan pertumbuhan ekonomi pada 2014 tidak dapat
diartikan ekonomi yang tidak bertumbuh sama sekali. Ia menjelaskan, akan
ada pertumbuhan ekonomi pada tahun depan, namun kecil dengan kisaran
0,1-0,2 persen.

Pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh konsumsi masyarakat pun tidak
bisa memberikan pertumbuhan yang signifikan. Memang, lanjutnya, tahun
pemilu akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi karena
masa politik akan mendorong konsumsi masyarakat seiring dengan adanya
kampanye-kampanye yang dilakukan.

Akan tetapi ia mengingatkan, pemilu tak dapat dijadikan andalan yang
dapat menopang pertumbuhan ekonomi. Kontribusi konsumsi dari pesta
pemilu tersebut tidak besar. Jika pertumbuhan ekonomi diharapkan dapat
bertumbuh dengan baik tahun depan, maka akan sangat ditentukan oleh
kinerja ekspor dan investasi, yang selama ini menjadi pendorong
pertumbuhan ekonomi selain konsumsi nasional.

Melihat perkembangan ekonomi Indonesia tahun ini, Erani menilai kondisi
perekonomian tahun depan tak jauh lebih baik ketimbang tahun ini. Hal
tersebut disebabkan faktor eksternal atau internal yakni perekonomian
global yang belum kunjung membaik. “Saya kira petanya tahun depan akan
sama dengan tahun ini,” ungkapnya.

Untuk itu, pemerintah diharapkan harus bekerja keras memperbaiki
kendala-kendala yang dihadapi belakangan ini seperti defisit transaksi
berjalan, defisit neraca perdagangan dan beberapa lainnya. Sedangkan
untuk nilai tukar rupiah, diprediksi masih akan berada pada kisaran
Rp10.500 per dolar Amerika Serikat (AS) dan inflasi tidak lebih dari 6
persen. “Pertumbuhan ekonomi 5,5-5,8 masih bisa tercapai dengan syarat
memperbaiki kinerja ekspor serta nilai tambah dan diversifikasi pasar
dan produk,” jelas Erani.

Deputi Gubernur Bank Indonesia
(BI) Mirza Adityaswara menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini
tak dapat dikatakan krisis. Hal itu mengingat fundamental negara yang
masih kuat. “Saat ini tidak ada krisis, hanya turbulance di pasar
keuangan,” kata Mirza pada acara yang sama.

Pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini mencapai Rp11.500 per dolar
AS, dinilai Mirza sebagai level yang cocok untuk situasi perekonomian
Indonesia saat ini. Pada posisi tersebut, nilai tukar rupiah merupakan
angka yang baik untuk mempersempit transaksi berjalan yang mencapai 3,8
persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Mirza juga mengingatkan ekonomi AS yang perlahan mulai bertumbuh.
Pertumbuhan ekonomi AS akan memperngaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia
pada 2014 mendatang. Bank Sentral AS akan menarik likuiditas (tapering off) yang diperkirakan akan dilakukan pada tahun depan.

Dengan perkiraan tersebut, Indonesia harus siap menghadapi kemungkinan
taperingg off pada tahun depan yang hanya tinggal menghitung hari saja.
Indonesia harus segera membenahi defisit transaksi berjalan dengan cara
mengurangi impor barang non produktif, minyak dan sebagainya.

“Upaya ini nantinya akan diikuti dengan bauran kebijakan lain untuk
menurunkan inflasi dan mempersempit defisit transaksi berjalan,”
pungkasnya.

Sumber: hukumonline.com

  • Berita/Post
Indef Administrator
, Indef
The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta
follow me

Leave a Reply

Close