JAKARTA, Baranews.co – Pemerintah berupaya mengendalikan harga beras yang melonjak sejak beberapa pekan lalu. Operasi pasar besar-besaran dilakukan di sejumlah daerah agar harga beras turun. Meskipun demikian, Bank Indonesia memperkirakan kenaikan harga beras ini tak memengaruhi inflasi.

Presiden Joko Widodo saat melakukan inspeksi di Gudang Perum Bulog, Sunter, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (25/2), mengatakan, pemerintah melakukan operasi pasar (OP) sesuai permintaan masyarakat. ”Berapa pun yang dibutuhkan pasar, akan disalurkan. Hari ini serentak kita salurkan ke sejumlah daerah di Indonesia, sehingga jangan ada lagi pikiran kekurangan stok,” kata Presiden Jokowi.

Inspeksi stok beras itu diikuti Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, dan Menteri BUMN Rini M Soemarno.

Setibanya di Pergudangan Sunter Timur, Kelapa Gading, Presiden langsung melihat kondisi gudang Bulog. Presiden tidak masuk ke gudang nomor 20 yang disiapkan panitia, tetapi ke gudang nomor 24 yang berada di sisi gudang nomor 20. Sebagian pegawai Perum Bulog terkejut melihat hal itu.

Di dalam gudang Perum Bulog itu, Presiden menggelar rapat terbatas dengan sejumlah menteri. Sofyan Djalil menduga ada pihak-pihak tertentu yang memainkan kondisi pasar. Ketika pemerintah mencanangkan program swasembada beras, impor beras dihentikan sementara. Pihak tersebut memainkan kondisi pasar agar impor beras dibuka kembali.

Sejak Januari hingga sekarang, Perum Bulog telah menyiapkan stok 175.000 ton beras untuk rakyat miskin (raskin) dan 125.000 ton beras untuk OP.

Serentak

Direktur Utama Perum Bulog Lenny Sugihat mengatakan, penyaluran raskin dan OP serentak dilakukan di sejumlah daerah.

Laporan wartawan Kompas, OP juga dilaksanakan di sejumlah tempat, antara lain Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Maluku.

Di Bandar Lampung, Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Lampung menggelar OP di pasar-pasar induk. Setiap hari 60 ton beras digelontorkan ke pasar, hingga harga kembali stabil.

Di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Pemerintah Kota Palangkaraya bekerja sama dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah Provinsi Kalimantan Tengah menggelar OP untuk mengatasi kenaikan harga beras.

Pemerintah Daerah DI Yogyakarta dan Perum Bulog Divre DIY menggelar OP pada 23-26 Februari. Total beras yang dijual melalui OP sebesar 13,7 ton dengan harga jual Rp 6.800 per kilogram.

Perum Bulog Divre Jawa Timur menggelar OP serentak di 38 kabupaten dan kota dengan sasaran 122 lokasi pasar dan permukiman penduduk.

Kepala Perum Bulog Divre Jawa Timur Witono mengatakan, pihaknya menyiapkan stok 396.371 ton beras untuk memenuhi kebutuhan OP, raskin, dan pengadaan beras bagi korban bencana. Stok Bulog tersebut diprediksi mencukupi kebutuhan hingga delapan bulan ke depan.

”Operasi pasar beras Bulog ini akan digelar tanpa batas waktu, sampai harga di pasar kembali normal. Supaya operasi pasar tepat sasaran, kami akan melakukan pengawasan terhadap pembeli dan melakukan pembatasan,” ujar Witono.

Khusus untuk OP, Bulog Jawa Timur menyiapkan beras dalam kemasan 5 kilogram dengan harga Rp 7.300 per kilogram. Harga ini di bawah harga eceran tertinggi untuk OP secara nasional Rp 7.400 per kilogram dan harga beras komersial di pedagang.

Alasan menjual beras OP lebih rendah Rp 100 per kilogram dibandingkan dengan daerah lain karena Jawa Timur merupakan lumbung padi nasional. Sebanyak 17 persen produksi beras nasional dihasilkan dari provinsi ini setiap tahun.

Perum Bulog Divre Sumatera Selatan dan Bangka Belitung mulai melakukan OP guna menekan kenaikan harga beras yang terjadi akhir-akhir ini. Operasi ini dilakukan di tiga pasar dan satu kelurahan di Palembang. Pada saat bersamaan, Bulog mempercepat penyaluran raskin.

Sebanyak 7,5 ton beras habis terjual dalam operasi pasar yang digelar Perum Bulog Divre Maluku di Ambon.

Sementara itu, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, memilih tidak mengirim beras ke luar kota untuk menahan laju harga beras yang kian mahal dua pekan terakhir ini di pasar lokal. Beras akan dilepas lagi setelah panen padi, yang diperkirakan pada pertengahan Maret mendatang.

Penjualan langsung

Berbeda dengan cara penjualan beras OP beberapa waktu lalu yang melibatkan pedagang, kini Perum Bulog turun langsung menjual beras di beberapa tempat, seperti di pasar dan perumahan.

Guru Besar Ekonomi Universitas Brawijaya Ahmad Erani Yustika mengatakan, penjualan langsung ada untung ruginya. Menjual langsung beras kepada masyarakat akan mampu meredam gejolak harga karena tak melewati rantai yang panjang. Akan tetapi, kapasitasnya memang tidak besar.

”Melalui pedagang memang lebih banyak titik yang dijangkau, tetapi dampaknya bisa tidak efektif karena pedagang masih bisa bermain. Saya sependapat, sebaiknya penjualan langsung lebih diprioritaskan,” katanya.

Mengenai kemungkinan dampak politik terkait harga beras ini, Erani yakin, Joko Widodo mampu menangani masalah ini.

”Presiden bisa memahami masalah ini di tengah berbagai masalah politik. Pilihan untuk tidak mengimpor menunjukkan pihak yang dia bela. Ia turun ke lapangan sudah cukup menjadi simbol bahwa ia memahami masalah ini. Menjadi masalah apabila panen raya meleset,” kata Erani.

Tak pengaruhi inflasi

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo memprediksi, kenaikan harga beras beberapa waktu terakhir tidak akan memengaruhi secara signifikan inflasi pada bulan Februari. Ia justru optimistis deflasi bakal terjadi pada Februari ini.

”Memang harga beras meningkat dan itu menjadi satu perhatian. Akan tetapi, kami menyambut baik langkah pemerintah mengidentifikasi persoalan ini dan memutuskan akan menambah suplai beras yang dialokasikan dari Perum Bulog sampai 300.000 ton. Ini akan membuat harga beras yang mengalami kenaikan akan lebih terkendali,” kata Agus di kompleks Istana Negara seusai bertemu dengan Presiden. 

Sumber: Baranews.co

Indef

The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta

Leave a Reply

Close