JAKARTA – Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berdampak terhadap sektor industri berbahan baku impor. Hal tersebut karena nilai produksi tidak sebanding dengan biaya impor bahan baku yang dikeluarkan.

Pengamat ekonomi dari Institute Development for Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menjelaskan, keharusan dan kebutuhan impor menjadi kelemahan tiap industri dalam produksi. Meningkatnya keinginan konsumen tidak dibarengi proses produksi industri akibat menguatnya dolar Amerika.

“Hal positifnya, ekspor menikmati dampak pelemahan rupiah, tapi tidak berpengaruh banyak. Tetap lebih banyak negatif dari pelemahan rupiah ini, karena masih banyak sektor usaha impor di Indonesia,” kata Enny saat dihubungi Okezone, Rabu (25/3/2015).

Menurutnya, elastisitas permintaan konsumen terhadap suatu barang primer tidak mengkonversi kenaikan harga. Karena pasokan barang primer mencukupi dan dibutuhkan oleh masyarakat.

Selain itu menurut Enny, yang terkena dampak negatif pelemahan Rupiah ialah para korporasi-korporasi yang punya kewajiban membayar utang.

Sumber: http://economy.okezone.com/

  • Berita/Post
Indef Administrator
, Indef
The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta
follow me

Leave a Reply

Close