|
JAKARTA:
Pemerintah diminta mempertahankan kebijakan stimulus fiskal pada 2010
untuk mengantisipasi pemulihan ekonomi negara lain yang dapat mengancam
pelarian modal.
Ekonom
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani
mengingatkan pemerintah harus mewaspadai risiko pemburukan ekonomi
akibat pelarian modal pada Agustus 2010.
Untuk
itu, pemerintah harus lebih fokus pada upaya memperkuat ketahanan
ekonomi domestik dengan melanjutkan kebijakan stimulus fiskal dengan
implementasi yang lebih baik daripada tahun ini.
"Pada
tahun ini, problem Indonesia tidak akan rumit, tapi pada Agustus 2010
patut diwaspadai. Sekarang investasi masih masuk ke Indonesia, tapi
kalau negara lain recover, dana ini bisa lari," jelasnya dalam seminar
kajian tengah tahun Indef bertajuk Krisis Keuangan, Stimulus Fiskal,
dan Ketahanan Ekonomi, kemarin.
Dia
mengatakan stimulus fiskal di sebagian besar negara di dunia tidak
hanya dilakukan pada saat krisis ekonomi melanda, tetapi juga didesain
untuk menciptakan dampak positif hingga jangka panjang. Indonesia perlu
meniru ini, salah satunya dalam bentuk stimulus infrastruktur yang
wajib dilakukan untuk 5 tahun ke depan.
"Juga
harus ada stimulus terhadap industri yang akan dikembangkan. Stimulus
fiskal juga perlu dialokasikan untuk penciptaan entrepreneur baru."
Dalam
RAPBN 2010, pemerintah tidak mengalokasikan stimulus fiskal seperti
pada APBN 2009 yang dianggarkan Rp73,3 triliun. Dengan begitu, alokasi
stimulus yang sebelumnya ada akan dihapus dan dikembalikan menjadi
program reguler kementerian/lembaga.
Ketua
Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia M.S. Hidayat menilai
besaran defisit APBN 2010 perlu dinaikkan dari 1,6% menjadi 2% agar
belanja stimulus fiskal bisa berlanjut pada tahun depan.
Menurut
dia, fokus pelaksanaan stimulus fiskal lebih diarahkan pada belanja
infrastruktur yang diyakini sangat efektif mendorong pertumbuhan
ekonomi.
"Saya
kira perlu alokasi khusus tambahan pada 2010. Kita sedang bicara dengan
DPR, kalau perlu defisit anggaran ditambah jadi 2%. Sisanya diserahkan
pada [sektor] infrastruktur," ujarnya seusai acara penganugerahan
Annual Report Award 2008 Rabu malam.
Tambahan defisit 0,4% itu akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur untuk menarik minat berinvestasi di Indonesia.
Cara
ini mencontoh China yang mampu mendorong laju PDB hingga 7,9% pada
kuartal II/2009 dengan mengalokasikan dana besar untuk pembangunan
infrastruktur.
"[Pembangunan infrastruktur] Itu adalah salah satu daya tarik orang untuk investasi, terutama di daerah."
Di
sisi lain, Hidayat mengkritisi lambatnya penyerapan APBN 2009 yang
lebih disebabkan oleh faktor birokrasi. Untuk itu, pemerintah harus
terus menjalankan reformasi birokrasi dengan benar.
Bank
Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun ini
bisa mencapai garis tengah target pemerintah 4%-4,5% atau sekitar
4,25%. Kondisi ini bisa terjadi karena perbaikan kinerja ekspor dan
peningkatan permintaan domestik.
Optimisme naik
Deputi
Senior Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan pencapaian
pertumbuhan ekonomi sebesar 4% pada kuartal II/2009 membawa optimisme
baru bagi semua pihak karena lebih baik dari ekspektasi semula 3,8%.
"Bisa terjadi lebih dari 4% walaupun enggak jauh, tapi bisa mungkin sedikit agak di tengah [antara 4%-4,5%],"
Indeks
harga saham gabungan (IHSG) kemarin menguat 49,132 poin (2,09%) ke
level 2.396,49 setelah pada sesi pertama sempat menyentuh level
2.408,88. Nilai transaksi mencapai Rp8,12 triliun dengan pembelian
bersih asing Rp80 miliar.
Sementara
itu, rupiah pada perdagangan pukul 15.59 wib menyentuh Rp9.950 per
dolar AS, atau menguat tipis dibandingkan dengan waktu yang sama sehari
sebelumnya, yaitu Rp9.995 per dolar AS.
Analis
PT Panin Sekuritas Tbk Purwoko Sartono mengatakan kenaikan bursa saham
nasional kali ini sejalan dengan pergerakan bursa kawasan yang
merespons pernyataan The Fed.
"Investor
domestik merespons positif pernyataan The Fed yang mengindikasikan
ekonomi dunia terus pulih sehingga harga minyak mentah dunia dan
mayoritas bursa dunia menguat," tuturnya kepada Bisnis.
Rapat
Komite Pasar Terbuka The Fed (FOMC) kemarin juga memutuskan
mempertahankan suku bunga acuannya pada level 0%-0,25%. Pernyataan The
Fed tersebut mendongkrak harga minyak mentah dunia sebesar 2,18%, atau
US$1,53 per barel ke level harga US$71,69.
Indeks
Morgan Stanley Capital kawasan Asia Pasifik menguat 1,5% menjadi
112,81. Bursa Shanghai merespons dengan kenaikan 0,89%, Nikkei-225
tumbuh 0,79%, dan Hang Seng terangkat 2,08%.
Di
Indonesia, seluruh indeks sektoral menguat, terutama sektor
pertambangan dan perkebunan yang masing-masing melonjak 4,32% dan
3,79%.
Indeks LQ-45 naik 2,26%, diikuti Jakarta Islamic Index (JII) yang tumbuh 2,59%, dan indeks BISNIS-27 menguat 1,98%. (aprilian.hermawan@bisnis. co.id)
|