| Peringkat utang RI stabil |
|
|
|
Waspada, Monday, 10 November 2008 06:03 WIB |
JAKARTA - Peringkat utang
jangka panjang pemerintah (sovereign
rating) Indonesia
baik untuk mata uang asing maupun lokal tetap stabil alias tidak berubah di
tengah krisis finansial saat ini. Lembaga pemeringkat internasional Standard
& Poor's (S&P) tetap memberikan kepercayaan kepada RI.
S&P pada 7 November 2008 telah mengeluarkan komunike
untuk menegaskan kembali penilaiannya terhadap sovereign rating Republik Indonesia tetap pada tingkat ‘BB' untuk longterm foreign currency sovereign credit
rating. Serta ‘BB+' untuk longterm
local currency rating. S&P menetapkan peringkat untuk outlook (prospek) tetap pada posisi stable outlook.
"Penegasan kembali akan posisi sovereign rating RI hari ini didukung oleh pandangan S&P
melihat positif kebijakan penurunan beban utang dan perbaikan kebijakan
terutama terkait rejim nilai tukar yang fleksibel, yang memungkinkan pemerintah
untuk menjaga kecukupun eksternal liquidity
cushion di tengah terjadinya negative
external shocks," kata Gubernur Bank Indonesia, Boediono dalam siaran pers
yang dikutip, kemarin.
Penegasan rating S&P ini juga didukung oleh keyakinan
mereka cadangan devisa dipandang masih memadai. S&P juga melihat keberadaan
fasilitas swap antara Bank Indonesia
dengan bank sentralbank sentral di Asia yang nilainya bisa mencapai US$12
miliar sebagai faktor yang dapat mendukung likuiditas eksternal perekonomian Indonesia.
Boediono mengatakan BI memandang penegasan kembali terhadap
penilaian sovereign rating Republik Indonesia
pada posisi BB/stable outlook
tersebut sebagai berita positif. Terutama di tengah gejolak sistem keuangan
dunia yang telah menyebabkan arus penurunan rating
oleh lembaga pemeringkat internasional baik terhadap peringkat kredit korporasi
maupun sovereign rating.
Penegasan sovereign
rating Republik Indonesia
oleh S&P ini dipandang sebagai refleksi akan keyakinan lembaga pemeringkat
internasional atas kemampuan otoritas perekonomian dalam menjaga keberlanjutan
stabilitas makro ekonomi di tengah tantangan eksternal yang tidak ringan.
Terakhir, S&P mengeluarkan hasil review sovereign rating Republik Indonesia
pada 26 Mei 2008 yang juga menegaskan posisi sovereign rating Indonesia
pada posisi BB/stable outlook.
Ekonom pada Institute for Economics and Finance (Indef)
Aviliani mendorong pemerintah dan Bank Indonesia untuk segera merubah
struktur cadangan devisa nasional agar memiliki fundamental yang lebih kuat.
"Pemerintah dan BI harus merubah struktur cadangan devisa
nasional dari selama ini bertumpu pada dana-dana ‘hot money' dari luar negeri," ujarnya di Jakarta.
Struktur cadangan devisa nasional, jelasnya, harusnya
bertumpu pada kinerja ekspor yang kuat dan kegiatan penanaman modal di dalam
negeri. "Ini justru akan lebih memperkuat fundamental dari cadangan devisa
nasional," katanya lagi.
Aviliani menilai, cadangan devisa nasional saat ini yang
lebih banyak dikontribusikan dana-dana hot
money sangat rawan. Pasalnya, hot
money sangat sensitif terhadap sentimen gejolak perekonomian global.
"Sektor riil bisa dikorbankan pada akhirnya jika terjadi
pelarian pada pasar modal. Karena itu, sebaiknya cadangan devisa nasional tidak
lagi bertumpu pada hot money,"
tambahnya.
Data Bank Indonesia mencatat, posisi cadangan devisa
nasional per 31 Oktober mencapai 50,58 miliar dolar AS, tergerus sebesar 6,54
miliar dolar AS dari posisi cadangan devisa per September.
Penurunan ini merupakan terendah sepanjang 17 bulan
terakhir.
(nov/dcm) |
|