Home About Us Organization Structure Publications Database Links Contact
News

Pengamat: Ibu Ani Terganggu

Jum'at, 07 November 2008 | 09:11 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Langkah intervensi pemerintah yang begitu besar dalam penyelamatan bisnis Bumi Resources dari Grup Bakrie sehingga Menteri Keuangan Sri Mulyani pun mengancam mundur, dinilai akan mengancam kredibilitas pemerintah.

"Saya khawatir karena Ibu Ani (Sri Mulyani) itu dinilai sebagai simbol pasar, penjaga gawang stabilitas makro. Dia adalah orang yang cukup kredibel bagi pasar," ujar Ahmad Erani, Direktrur Eksekutif Indef kepada Tempo pagi ini.

"Saya pikir dia keberatan dan terganggu dengan intervensi pemerintah yang bias," kata Erani merujuk rencana pembelian kembali saham BUMN yang dibelokkan untuk menyelamatkan perusahaan swasta.

Menurut Erani, salah satu alasan keberatan Sri Mulyani adalah karena dia percaya intervensi yang berlebihan tidak bagus, bahkan dalam kondisi memasuki krisis saat ini. "Fungsi pemerintah hanya sebatas membuat regulasi selektif untuk mendorong ekonomi pasar berfungsi," ujarnya.

Sementara langkah intervensi pemerintah, justru terlihat semakin memperkeruh suasana. Hal ini terkait rencana buy back saham di BUMN Rp 10 triliun yang hanya terpakai separuh pada awalnya dan kemudian ada indikasi dipergunakan untuk menyelamatkan perusahaan swasta yang saat ini kondisinya menyedihkan.

"Ibu Ani merasa dimanipulasi dan dikibuli dengan rencana itu," ujar Erani.

Menurut Erani, pengaruh buy back Rp 10 triliun sendiri tidak memadai karena nilainya relatif kecil dibandingkan kapitalisasi pasar Rp 1.500 triliun diluar obligasi dan pasar asuransi,  (total Rp 2.000 triliun).

Namun, masalah yang utama adalah kredibiliatas pemerintah, karena biasnya langkah pembelian kembali BUMN itu yang digunakan juga untuk penyelamatan perusahaan swasta.

Koran Tempo hari ini (7/11)  memberitakan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati beserta jajaran eselon satu Departemen Keuangan, Rabu malam lalu, menyampaikan rencana pengunduran diri kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Aksi mundur itu berawal dari kekecewaan Sri Mulyani atas intervensi pemerintah terhadap Bursa Efek Indonesia. Semula, Bursa akan kembali memperdagangkan saham Bumi Resourcees milik Grup Bakrie yang dihentikan perdagangannya sejak 7 Okbotber lalu pada Rabu pagi.

Namun, keputusan itu tiba-tiba dibatalkan sesaat sebelum perdagangan sesi pertama dibuka pukul 9.30. Tidak ada penjelasan detail di balik keputusan ini. Direktur Bursa Efek Indonesia Erry Firmansyah hanya menyebutan, "Atas permintaan pemerintah."

Home | About Us | Organization Structure | Publications | Database | Links | Contact | TOP
© 2005 - 2010 INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) - all rights reserved
Website developed by Focus Digital Design - Report Bugs & Errors - Hosted by JakNetwork

 

News
Stimulus fiskal 2010 masih dibutuhkan
Pemulihan ekonomi negara lain bisa picu pelarian modal

----
Peringkat utang RI stabil
----
Pengamat: Ibu Ani Terganggu

----
PRO DAN KONTRA

Penurunan Premium Angkat Daya Beli

----
Premium Turun Cuma Rp 500, Barang dan Transportasi Sulit Turun
----
Manfaatkan Momentum Obama
----
Korupsi Politik dan Yudisial Ancam Demokrasi
----
Ratusan Miliar Uang Bank Domestik Membeku di Indover
----
Perlu Koordinasi Lintas Sektoral untuk Dorong Sistem Resi Gudang
----
IMBAS KRISIS KEUANGAN
Realisasi Insentif Dunia Usaha Harus Segera

----
Siasati Krisis dengan Penempatan TKI Skill
----
Subsidi Naik Rp 15,84 Triliun
----

Presiden Minta Masukan untuk dibawa ke Pertemuan G-20

----
ANTISIPASI DAMPAK KRISIS

Pemerintah Perlu Perbaiki Sistem Kredit UMKM

----
Kurs Dolar AS Menguat Terhadap Rupiah, Inflasi Mengancam
----
Dampak Krisis Global: Implementasi Inpres Sektor Riil Diefektifkan
----
Atasi Krisis? Biarkan Rupiah Depresiasi Gradual
----
Pasar Modal Sektor Pertama Terkena Imbas Krisis AS
----
Pemerintah Salah atasi Krisis
----


Search INDEF
Keywords:
Publications
Database
Articles