Home About Us Organization Structure Publications Database Links Contact
News

Detik.com, Kamis, 06/11/2008 17:50 WIB
Premium Turun Cuma Rp 500, Barang dan Transportasi Sulit Turun

Jakarta - Penurunan harga Premium sebesar Rp 500 per liter dinilai tidak akan berdampak signifikan. Penurunan ini tidak akan menyeret harga barang ataupun ongkos transportasi ikut turun.
 
Demikian disampaikan ekonom Aviliani ketika dihubungi detikFinance, Kamis (6/11/2008).
 
"Kalau cuma Rp 500 sih nggak signifikan, nggak terlalu banyak gunanya. Industri tidak akan menurunkan harganya, begitu juga transportasi yang kemarin baru naik," ujarnya.
 
Menurut Aviliani, industri belum akan menurunkan harga produk mereka karena sudah menganggarkan harga BBM untuk rencana setahun. Apalagi penurunan ini terjadi di akhir tahun, sehingga akhirnya para industri merasakan keuntungan setelah terbebani saat kenaikan harga di akhir Mei 2008.
 
Aviliani menambahkan, sebenarnya pemerintah lebih baik menurunkan harga BBM pada 2009 saat UU APBN 2009 berlaku sehingga ada payung hukumnya.
 
Ia pun menyayangkan pemilihan waktu penurunan BBM dilakukan justru disaat masyarakat sudah mulai menggeser penggunaan BBM mereka dari BBM subsidi ke BBM keekonomian seperti Pertamax.
 
Untuk tahap selanjutnya, pemerintah harus membuat masyarakat memahami dan terbiasa dengan harga BBM yang naik turun. Karena bagi Aviliani, harga minyak dunia yang kini berada di kisaran US$ 60-70 per barel adalah harga fiktif. Jika dihitung berdasarkan supply demand, harga minyak harusnya di kisaran US$ 85-95 per barel.
 
"Jadi harus dibiasakan untuk turun. Karena kalau sudah turun begini, pasti susah untuk naik lagi. Kita berdoa saja Desember ini harga minyak tidak naik lagi," katanya.(lih/ir)

Home | About Us | Organization Structure | Publications | Database | Links | Contact | TOP
© 2005 - 2010 INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) - all rights reserved
Website developed by Focus Digital Design - Report Bugs & Errors - Hosted by JakNetwork

 

News
Stimulus fiskal 2010 masih dibutuhkan
Pemulihan ekonomi negara lain bisa picu pelarian modal

----
Peringkat utang RI stabil
----
Pengamat: Ibu Ani Terganggu

----
PRO DAN KONTRA

Penurunan Premium Angkat Daya Beli

----
Premium Turun Cuma Rp 500, Barang dan Transportasi Sulit Turun
----
Manfaatkan Momentum Obama
----
Korupsi Politik dan Yudisial Ancam Demokrasi
----
Ratusan Miliar Uang Bank Domestik Membeku di Indover
----
Perlu Koordinasi Lintas Sektoral untuk Dorong Sistem Resi Gudang
----
IMBAS KRISIS KEUANGAN
Realisasi Insentif Dunia Usaha Harus Segera

----
Siasati Krisis dengan Penempatan TKI Skill
----
Subsidi Naik Rp 15,84 Triliun
----

Presiden Minta Masukan untuk dibawa ke Pertemuan G-20

----
ANTISIPASI DAMPAK KRISIS

Pemerintah Perlu Perbaiki Sistem Kredit UMKM

----
Kurs Dolar AS Menguat Terhadap Rupiah, Inflasi Mengancam
----
Dampak Krisis Global: Implementasi Inpres Sektor Riil Diefektifkan
----
Atasi Krisis? Biarkan Rupiah Depresiasi Gradual
----
Pasar Modal Sektor Pertama Terkena Imbas Krisis AS
----
Pemerintah Salah atasi Krisis
----


Search INDEF
Keywords:
Publications
Database
Articles