Jakarta, Kompas - Korupsi yang merajalela di
sektor politik dan yudisial serta belum mampu diatasi secara cepat
mengancam proses demokrasi yang sedang dibangun. Selain akan memperkuat
ketidakadilan dan menumbuhsuburkan kesenjangan kesejahteraan, juga
menghancurkan budaya kejujuran dan kompetisi yang sehat.
Demikian
diungkapkan guru besar filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara,
Franz Magnis- Suseno, dalam seminar ”Peran Perempuan Mencegah Korupsi”
di Jakarta, Selasa (4/11). Hadir pula sebagai pembicara, pengamat
ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef),
Faisal Basri; anggota Fraksi Partai Golkar DPR, Marwah Daud Ibrahim;
dan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar.
Menurut
Magnis, korupsi membuat harga barang kebutuhan masyarakat sangat mahal,
tak sebanding dengan kecilnya pendapatan masyarakat. Biaya produksi
yang dikeluarkan korporasi juga semakin tinggi walau ongkos buruh tetap
rendah.
”Korupsi membuat keputusan yang diambil negara adalah
keputusan yang paling menguntungkan, bukan keputusan yang terbaik.
Padahal, dengan kondisi Indonesia saat ini, Indonesia butuh keputusan
yang terbaik,” ujar Magnis.
Menurut Antasari, korupsi terjadi
karena ada niat dan kesempatan. Untuk membatasi kesempatan, sistem
pengawasan lembaga pemerintah harus dilakukan secara ketat. Agar
efektif, pengawasan harus dilakukan oleh pihak di luar lembaga yang
diawasi.
Marwah menambahkan, korupsi mematikan kreativitas anak
bangsa dan secara perlahan akan menghancurkan bangsa. Perempuan sebagai
ibu dan orangtua memiliki peran strategis dalam membentengi semua
anggota keluarga agar tidak melakukan korupsi.
Untuk mengatasi
korupsi, lanjut Magnis, dapat dilakukan jika para pemimpin memiliki
kehendak kuat untuk memberantasnya. Kelompok masyarakat madani juga
dapat memberikan tekanan kepada kelompok pengambil keputusan sehingga
kebocoran anggaran dapat dicegah.
”Nilai harga diri yang menghargai prestasi, bukan konsumsi, perlu digali kembali,” ujarnya.
Boikot pemilu
Sementara
itu, Faisal menilai korupsi makin menjadi-jadi akibat ulah partai
politik dan politisi. Partai tidak pernah transparan menyampaikan
kepada publik sumber pembiayaannya selama ini. Walau sering kali
mengatakan tidak memiliki dana cukup, kegiatan partai banyak dilakukan
di hotel-hotel mewah.
”Partai harus dipaksa agar memiliki aturan
dalam pengelolaan uangnya. Sumber keuangan dan penggunaan uang partai
harus dapat diketahui publik,” katanya.
Hal ini diperlukan untuk
mencegah partai didanai pengusaha hitam. Dikuasainya partai oleh
kelompok swasta akan membuat dibajaknya kebijakan publik oleh
kepentingan pengusaha hitam yang mensponsori partai.
Jika partai
tidak mau transparan dalam pengelolaan keuangannya, lanjut Faisal,
masyarakat perlu memboikot pelaksanaan pemilu. (MZW)