IMBAS KRISIS KEUANGAN Realisasi Insentif Dunia Usaha Harus Segera
Ahmad Erani Yustika, Direktur Indef.
Suara Karya, Selasa, 4 Nopember 2008
JAKARTA
(Suara Karya): Pemerintah harus segera merealisasikan insentif untuk
dunia usaha yang terkena imbas krisis keuangan global.
Realisasi pemberian insentif mendesak agar industri nasional bisa
menghindari penurunan produksi yang berujung pemutusan hubungan kerja
(PHK) karyawan/pekerja. Sektor-sektor yang perlu mendapat prioritas
pemerintah adalah industri manufaktur dan pertanian yang berorientasi
ekspor serta bersifat padat karya, termasuk usaha kecil, dan menengah
(UKM).
"Guna memperbaiki perekonomian nasional akibat dampak krisis keuangan
global, pemerintah harus merealisasikan insentif yang dijanjikan untuk
sektor usaha tertentu. Insentif itu akan membantu pengusaha dan pekerja
di industri manufaktur dan serta pertanian. Pemberian insentif juga
dapat memacu perkembangan perekonomian," kata Direktur Indef Ahmad
Erani Yustika, di Jakarta, kemarin.
Insentif yang perlu diberikan pemerintah, menurut Ahmad Erani, bisa
berupa keringanan pajak, fasilitas untuk ekspansi pasar, dan insentif
untuk efisiensi produksi. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT),
sepatu/alas kaki, elektronik, dan industri agro, serta sektor pertanian
yang sebagian besar berorientasi ekspor urgen memperoleh insentif ini.
"Selama ini kebijakan insentif hanya timbul-tenggelam, tanpa
realisasi," ujarnya.
Menurut Erani, insentif dapat diberikan pemerintah berupa fiskal
(perpajakan) maupun nonfiskal, seperti pembangunan infrastruktur, suku
bunga kredit rendah, juga regulasi. Intinya, pemerintah harus bisa dan
mau memberikan insentif, terutama untuk manufaktur dan pertanian,
karena berdampak memacu perbaikan ekonomi nasional serta banyak
menyerap tenaga kerja.
"Apa pun alasannya, pemerintah tidak dapat memungkiri bahwa kedua
sektor itu banyak menggerakkan ekonomi masyarakat dan negara," tutur
Erani.
Sektor industri manufaktur dan pertanian di Indonesia, katanya pula,
memiliki keunggulan komparatif dengan kekayaan sumber daya alam dan
ketersediaan tenaga kerja. Karena itu, pelaku usaha sebagian besar
berada di kedua sektor tersebut.
"Jika pemerintah dapat memperbaiki dua sektor itu, dampak positifnya
adalah penciptaan lapangan pekerjaan yang otomatis akan mengatasi
pengangguran dan kemiskinan secara konkret. Ini yang perlu dilakukan
pemerintah mulai dari sekarang. Realisasikanlah insentif yang
dijanjikan agar fundamental ekonomi di masa depan tidak mudah
terombang-ambing oleh krisis," kata Erani.
Di lain pihak, Ketua Asosiasi Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia
(Asmindo) Ambar Tjahyono mengatakan, sekitar 300 perusahaan mebel
terancam terkena kredit macet akibat tidak adanya jaminan letter of
credit (L/C) dari perbankan. "Dengan jatuhnya perbankan di AS, maka
transaksi pembayaran ekspor-impor terhambat, karena tidak ada lagi yang
berani menjamin L/C. Tentu para eksportir akan terhambat transaksinya,"
kata Ambar.
Dia juga mengatakan terhambatnya transaksi ini akan memengaruhi aliran
kas perusahaan mebel dan dapat menghambat pembayaran kredit ke
perbankan di Tanah Air. Jika terhambatnya pembayaran membuat perbankan
bertindak arogan, misalnya memasukkan beberapa perusahaan mebel ke
dalam daftar hitam, maka akan semakin memperparah kondisi perusahaan.
"Jika perbankan arogan, tentu semakin parah dan bisa berujung pada
PHK," ujar dia.
Asmindo sendiri akan segera mendiskusikan masalah ini dengan
pemerintah. Dalam hal ini, asosiasi akan meminta bantuan pemerintah
agar perbankan mau memberikan kelonggaran kepada pengusaha yang
terkendala pembayaran tersebut. "Minimal ada kelonggaran selama
sembilan bulan untuk menangguhkan pembayaran," tuturnya. (Bayu/Andrian)
|