|
Media Indonesia, Kamis, 30 Oktober 2008 00:03 WIB Presiden Minta Masukan untuk dibawa ke Pertemuan G-20
PRESIDEN
Susilo Bambang Yudhoyono kembali mengumpulkan para ekonom, pengusaha,
dan para menteri bidang ekonomi serta tokoh bidang perekonomian untuk
membahas masalah sektor keuangan dan perbankan.
Sejumlah pengamat ekonomi yang hadir dalam acara tersebut antara
lain Bambang Brodjonegoro (UI), Didik J Rachbini (Indef), Ninasapti
Triaswati (Indef), Badia Perizade (Universitas Sriwijaya), Fadhil Hasan
(Indef), Aviliani (Indef), dan Christianto Wibisono (Global Nexus
Institute).
Sementara itu, para pelaku ekonomi yang hadir antara lain MS
Hidayat, John Prasetio, James T Riady, Chris Kanter, Agus Martowardojo,
Franky O Widjaja, Benny Sutrisno, Robert Budi Hartono, Wisnu Wardhana,
dan Gita Wiryawan (Kadin). Pada pertemuan itu, Presiden Yudhoyono
didampingi Plt Menko Perekonomian/Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri
Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil,
Gubernur BI Boediono, Muliaman D Hadad (BI), Joyo Winoto (BPN),
Hermanto Siregar, Chatib Basri, Rudjito, Anggito Abimanyu, dan M
Ikhsan.
Sejak terjadi krisis keuangan global, Presiden Yudhoyono memang
kerap mengumpulkan para ekonom dan pengusaha guna membahas perkembangan
yang terjadi. Pertemuan terakhir dilakukan pada 13 Oktober lalu saat
Presiden menjelaskan mengenai langkah pemerintah menghadapi krisis
yakni dengan mengeluarkan tiga perpu mengenai amendemen UU BI,
peningkatan penjaminan nasabah hingga Rp2 miliar, dan protokol
penanganan krisis.
Seusai pertemuan kemarin, Ketua Kadin MS Hidayat mengatakan
Presiden meminta masukan guna dibawa dalam pertemuan forum G-20 di
Washington AS, pertengahan November. Presiden Yudhoyono mewakili Asia
dalam pertemuan yang membahas krisis keuangan global.
"Presiden melakukan brain storming untuk proposal di forum
G-20 di Washington. Draf harus sampai 5 November lalu dipresentasikan
ke pemerintah agar menjadi proposal," kata MS Hidayat.
Hidayat mengatakan pengusaha meminta agar Presiden
mempertimbangkan beberapa hal dalam sektor keuangan dan perbankan.
Seperti penjaminan penuh atas dana di perbankan, pengawasan lalu lintas
devisa yang ketat, dan menghapus hambatan di sektor riil menjadi fokus
utama.
Sebelumnya, para ekonom mengatakan saat ini pemerintah harus juga
berkonsentrasi menggairahkan sektor riil setelah stabilitas ekonomi
makro terjaga.(Faw/E-2)
|