ANTISIPASI DAMPAK KRISIS
Pemerintah Perlu Perbaiki Sistem Kredit UMKM
Suara Karya, Kamis, 30 Oktober 2008
JAKARTA
(Suara Karya): Krisis keuangan global yang terjadi belakangan ini
semakin membuktikan bahwa pengembangan sektor keuangan di Tanah Air
sangat rapuh.
Apalagi bila tidak diawali dari pengembangan sektor riil yang di
dalamnya faktor kewirausahaan amat berperan. Untuk itu, pemerintah
perlu segera memperbaiki sistem kredit untuk usaha mikro, kecil, dan
menengah (UMKM) dengan mengadaptasi sistem-sistem yang sesuai dengan
karakter sektor UMKM di Indonesia.
Demikian rangkuman pendapat ekonom Aviliani dan Fadhil Hasan yang
dikemukakan secara terpisah kepada Suara Karya, di Jakarta, kemarin,
menanggapi antisipasi meluasnya dampak krisis di dalam negeri.
"Daya saing ekonomi menghadapi pasar global barang, jasa, dan tenaga
kerja diyakini dapat ditopang oleh kuatnya mental wirausaha. Tentunya
ini didukung lingkungan yang kondusif bagi kegiatan kewirausahaan,"
kata Aviliani.
Pemerintah juga harus memfasilitasi dalam hal pemberian insentif dan
kemudahan bagi kegiatan wirausaha. Menurut dia, fasilitas dan dukungan
konkret dalam upaya pengembangan lembaga pendidikan kewirausahaan
formal maupun nonformal harus segera diberikan oleh pemerintah.
Karenanya, pemerintah harus menyediakan alokasi anggaran yang memadai.
Aviliani juga mengatakan, sudah saatnya diterapkan program-program
terobosan untuk mengimplementasikan sistem pelayanan terpadu satu pintu
dalam hal pendaftaran dan perizinan usaha, terutama di daerah-daerah.
Selain itu, Fadhil menambahkan, perlunya segera memperbaiki sistem
kredit untuk UMKM dengan mengadaptasi sistem-sistem yang sesuai dengan
karakter sektor UMKM. Perbaikan tersebut diharapkan dapat meningkatkan
jumlah dana yang dibutuhkan oleh UMKM.
Menurut Fadhil, saat ini peran sektor perbankan terhadap UMKM belum
optimal. Dia menilai, perlu dirancang divisi khusus di setiap bank yang
menangani kredit jenis UMKM. "Kebijakan suku bunga untuk UMKM juga
harus didiskusikan secara baik dengan pemerintah karena suku bunga
tinggi akan menjadi penghambat aksesibilitas UMKM terhadap pembiayaan,"
kata Fadhil.
Namun, di sisi lain ceiling rate (pagu atas) bisa menghambat minat
perbankan dalam menyalurkan kredit ke sektor UMKM. Dia menyarankan agar
dibentuk lembaga keuangan khusus yang berorientasi kepada kredit UMKM.
"Dengan demikian akan memudahkan UMKM dalam mengakses sumber
pembiayaan," ujarnya.
Lembaga keuangan tersebut dapat mencakup bank daerah nonpemerintah,
lembaga penjamin kredit kecil, perusahaan small-leasing, dan perusahaan
pembiayaan kredit kecil lainnya.
Menurut Fadhil, saat ini UMKM memerlukan lingkungan eksternal yang
nyaman baik di lingkungan sosial maupun pelayanan-pelayanan yang
diperlukan UMKM. Misalnya, sistem penjamin resmi bagi UMKM, dukungan
permodalan, dukungan fiskal dan perpajakan, pelatihan teknis,
profesional, dan sistem informasi serta konsultasi. Sistem informasi
keuangan UMKM juga sudah saatnya diperbaiki dan dikembangkan sistem
akuntansi keuangan yang tepat.
"Dan yang tidak kalah penting adalah pendirian jaringan subkontraktor
antara usaha berskala besar dengan usaha berskala kecil," katanya.
Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan pertemuan
tertutup dengan para ekonom dan pelaku ekonomi di Gedung Sekretariat
Negara, Rabu (29/10). Ekonom yang hadir termasuk Aviliani dan Fadhil
Hasan. Menurut Presiden, pertemuan ini untuk membicarakan situasi
perekonomian nasional.
Sejumlah pengamat ekonomi yang hadir dalam acara tersebut, antara lain,
Bambang Brodjonegoro (UI), Didik J Rachbini (Indef), Ninasapti
Triaswati (Indef), Badia Perizade (Universitas Sriwijaya), Fadhil Hasan
(Indef), Aviliani (Indef), dan Christianto Wibisono (Global Nexus
Institute).
Para pelaku ekonomi yang hadir, antara lain, MS Hidayat, John Prasetio,
James T Riady, Chris Kanter, Agus Martowardojo, Franky O.Widjaja, Benny
Sutrisno, Robert Budi Hartono, Wisnu Wardhana, dan Gita Wiryawan
(Kadin).
"Mari kita ucapkan syukur kepada Tuhan karena kita bagian dari solusi
dan kita ikut berusaha menyelamatkan perekonomian kita," kata Presiden.
(Andrian/A Choir)
|