Home About Us Organization Structure Publications Database Links Contact
News

Jawa Pos,  Selasa, 28 Oktober 2008

Kurs Dolar AS Menguat Terhadap Rupiah, Inflasi Mengancam

KURS dolar AS (USD) terus menguat terhadap rupiah. Dalam perdagangan kemarin (27/10), nilai tukar rupiah terperosok tajam di posisi Rp10.749 per USD. Itu berarti ada pelemahan atau melemah 744 poin dibanding penutupan perdagangan pekan lalu.

Turbulensi finansial membuat investor memilih lebih waspada dan menurunkan risk appetite-nya terhadap instrumen di emerging countries. Padahal, sebenarnya imbal hasil instrumen di emerging countries lebih menarik. Misalnya, imbal hasil SUN yang terus naik sehingga jauh lebih tinggi dibandingkan US Treasuries. Juga, bunga yang ditawarkan BI rate (9,25 persen) jauh lebih tinggi dibandingkan bunga The Fed (1,5 persen).

Chief Economist Bank BNI Tony Prasentiantono mengatakan, ada kepanikan investor di negara-negara maju yang sudah sangat besar. "Buktinya poundsterling (GBP), euro (EUR), dan dolar Aussie (AUD) terbanting sangat tajam. Lalu, kepanikan ini mereka tularkan juga ke emerging countries, meski dengan intensitas yang lebih rendah," jelasnya kepada koran ini kemarin (27/10). Tony mengatakan, depresiasi rupiah masih lebih rendah daripada depresiasi poundsterling, euro, dan AUD.

Selain itu, sambung dia, banyak mata uang yang selama ini overvalued terhadap USD, sehingga sekaranglah terjadinya koreksi. "Rupiah termasuk yang mengalami overvalued dan terkoreksi," tuturnya.

Terdepresiasinya rupiah memang sebagai akibat berkurangnya pasokan dolar AS. Itu karena investor asing menarik dana USD-nya ke luar negeri, baik untuk pribadi maupun korporasi. Kondisi itu diperparah oleh makin sulitnya pendanaan USD dari pasar luar negeri karena lembaga keuangan di tingkat global sedang berkonsentrasi menyelesaikan masalah likuiditas valas mereka.

Ekonom dan anggota Komisi Keuangan DPR RI Dradjad H. Wibowo mengatakan, otoritas mesti waspada terhadap aksi spekulan yang hanya memperkeruh kondisi pasar uang nasional. Karena itu, jelas dia, bank sentral harus melakukan evaluasi dan pengawasan yang ketat. Apalagi, BI baru saja membuat kebijakan untuk memperlonggar likuiditas valas. "Perlu dimonitoring bagaimana operasi bank-bank yang ikut memainkan valas," katanya.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu mengatakan pelemahan nilai tukar tidak hanya terjadi pada rupiah, namun telah menjangkit secara regional. Anggito mengatakan fundamental ekonomi masih cukup bagus, ditunjukkan dengan pertumbuhan yang masih di atas 6 persen. Ini juga ditunjang dengan cadangan devisa yang cukup kuat dan industri perbankan yang sehat. "Jadi secara fundamental tidak ada yang mesti dirisaukan. Tidak ada perubahan apa-apa yang cukup signifikan," kata Anggito kemarin (27/10).

Indonesia tidak bisa sendirian dalam menghadapi terpaan krisis keuangan global. Ini karena hampir semua negara mengalami koreksi terhadap mata uangnya. "Sekarang tetap kita lakukan reform saja. Jadi untuk BI, akan menjaga keseimbangan baru ini," kata Anggito. Solusi bersama dilakukan melalui ASEAN plus 3 maupun dengan negara-negara G-20.

Indonesia juga belum berminat menerapkan sistem devisa terbatas. Menurut Anggito, yang terpenting saat ini adalah perbaikan pengawasan dan pengendalian terhadap valuta asing. "Yang kita lakukan ada monitoring, pengawasan, pendendalian yang lebih baik. Bagaimana orang beli dolar biar tidak untuk spekulasi," kata Anggito.

Direktur Eksekutif Indef Ahmad Erani Yustika mengatakan, pelemahan rupiah berpotensi membuat harga barang-barang impor menanjak. Operasional perusahaan-perusahaan yang menggunakan valas juga bisa membengkak. Selain itu, perusahaan di Indonesia yang punya utang berdenominasi USD tentu nilai utangnya akan ikut membesar. "Semua itu berpotensi mempersulit gerak dunia usaha, yang muaranya bisa menyebabkan inflasi," ujar doktor ekonomi lulusan Goettingen University, Jerman, itu. (sof/eri)

Home | About Us | Organization Structure | Publications | Database | Links | Contact | TOP
© 2005 - 2010 INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) - all rights reserved
Website developed by Focus Digital Design - Report Bugs & Errors - Hosted by JakNetwork

 

News
Stimulus fiskal 2010 masih dibutuhkan
Pemulihan ekonomi negara lain bisa picu pelarian modal

----
Peringkat utang RI stabil
----
Pengamat: Ibu Ani Terganggu

----
PRO DAN KONTRA

Penurunan Premium Angkat Daya Beli

----
Premium Turun Cuma Rp 500, Barang dan Transportasi Sulit Turun
----
Manfaatkan Momentum Obama
----
Korupsi Politik dan Yudisial Ancam Demokrasi
----
Ratusan Miliar Uang Bank Domestik Membeku di Indover
----
Perlu Koordinasi Lintas Sektoral untuk Dorong Sistem Resi Gudang
----
IMBAS KRISIS KEUANGAN
Realisasi Insentif Dunia Usaha Harus Segera

----
Siasati Krisis dengan Penempatan TKI Skill
----
Subsidi Naik Rp 15,84 Triliun
----

Presiden Minta Masukan untuk dibawa ke Pertemuan G-20

----
ANTISIPASI DAMPAK KRISIS

Pemerintah Perlu Perbaiki Sistem Kredit UMKM

----
Kurs Dolar AS Menguat Terhadap Rupiah, Inflasi Mengancam
----
Dampak Krisis Global: Implementasi Inpres Sektor Riil Diefektifkan
----
Atasi Krisis? Biarkan Rupiah Depresiasi Gradual
----
Pasar Modal Sektor Pertama Terkena Imbas Krisis AS
----
Pemerintah Salah atasi Krisis
----


Search INDEF
Keywords:
Publications
Database
Articles