INILIAH.COM, Jakarta- Langkah Pemerintah Susilo Bambang Yudoyono dalam
mengatasi dampak krisis global kurang tepat.
Pengamat ekonomi Indef, Fadil Hasan beranggapan kebijakan pemerintah untuk
mengantisipasi penularan krisis global pada perekonomian domestik dengan cara
menempuh mekanisme transmisi perdagangan dengan segala penurunanannya kurang
tepat. Indef menilai kajian teori tradisional tersebut memang tidak salah.
Namun, dalam kajian kontemporer, transmisi ini kurang berpengaruh.
Sebenarnya salah satu masalah yang menyebabkan terjadinya krisis keuangan
global saat ini adalah kompetisi yang menyebabkan terjadinya fleksibel term
of trade antar negara. Menurutnya, untuk konteks Indonesia sendiri pengalaman yang
ada menunjukkan, transmisi dan efek penularan dari satu krisis tidak terjadi
melalui perdagangan. Pengalaman dari krisis moneter 1997-1998 menunjukkan, laju
ekspor Indonesia
tetap menunjukkan tingkat pertumbuhan yang positif.
Untuk menangani krisis keuangan di Indonesia Indef menyarankan agar
pemerintah menjaga stabilitas moneter dengan cara menjaga indepedensi dalam
mengambil kebijakan dan mencegah sejauh mungkin intervensi luar, dan
mempertahankan suku bunga. Langkah lainnya adalah penginjeksian secara
besar-besaran likuiditas ke dalam sistem perbankan nasional dengan cara
penurunan ketetapan Giro Wajib Minimum (GWM) dengan mengikuti fluktuasi nilai
obligasi negara, perpanjangan fasilitas repo bagi pemegang obligasi negara dan
perluasan fasilitas repo untuk individual, peningkatan batas maksimum nominal
pembawaan uang kartal ke luar negeri, pengerahan dana APBN dan APBD yang idle
ke dalam simpanan bank terutama Bank BUMN, membuat satu kerangka aturan yang
mewajibkan lembaga pensiun dan asuransi untuk sejauh mungkin menmapatkan
dananya pada perbankan, pemberlakuan kontrol devisa terbatas, mengambil
inisiatif percepatan pencapaian kesepakatan koordinasi operasi pasar dan
kerjasama likuiditas antar bank sentral se kawasan.[L5]