ANGGOTA Komisi VII DPR RI Satya Wira Yudha menilai polemik tentang pengembangan Blok Masela tak perlu berlarut apabila pemerintah tidak lamban dalam mengambil keputusan.

“Setiap kebijakan publik yang terlalu lama diambil keputusan, pasti akan menjadi polemik. Bukan hanya soal Blok Masela. Rakyat tidak suka dibuat menunggu dengan ketidakpastian isu,” cetus Satya dalam diskusi bertajuk “Blok Masela dan Masa Depan Energi Indonesia” di kantor INDEF, Senin (29/2).

Semestinya, sambung dia, perbedaan pendapat antarkementerian yang kemudian mencuat ke publik, dapat diselesaikan di tingkat kabinet. Pernyataannya merujuk pada perang dingin yang seakan terjadi antara Menteri Energi Sumber Daya Mineral yang pro skema off shore atau FLNG dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli. Satya berpandangan ada ketidakjelasan dalam pola pengambilan kebijakan yang diterapkan pemerintah.

“Terkait perbebatan teknis itu kan bisa diselesaikan di tingkat kabinet, sehingga muncul satu keputusan. Yang harus dicatat, pola pengambilan kebijakan kita tidak tepat karena memakan waktu yang lama. Begitu juga terhadap penanggung jawabnya juga tidak jelas. Seharusnya menteri ini mengerjakan apa, eh dia mengomentari apa. Perlu disadari soal energi sudah tentu koordinatornya atau penanggung jawab ya Kementerian ESDM,” urainya.

Lebih lanjut, politisi Partai Golkar itu mengatakan urgensi dari pengembangan lapangan gas abadi tersebut bukan perihal off shore atau on shore semata. Pemerintah, tegas dia, harus berkonsentrasi dalam membuat perhitungan yang cermat terkait berapa besar potensi pendapatan yang diperoleh negara, serta bagaimana multiplier effect terhadap masyarakat sekitar.

Sebelum pemerintah menjatuhkan keputusan terhadap rekomendasi plan of development (POD), Satya menekankan harus ada rincian kajian dari sisi kesiapan elektrifikasi, kesiapan pipa yang terpasang, serta aspek komersial seperti bagaimana potensi sentra industri yang akan bertumbuh.

“Perdebatannya jangan terus larut soal on shore atau off shore, jangan deviasikan ke sana terus. Perlu ditekankan berapa income ke negara, apalagi sekarang kita over supply gas. Intinya kan bagaimana pengembangan blok itu menguntungkan dalam konteks multiplier effect. Agar tepat keputusannya harus didesain dengan cermat dari awal. Misalnya berapa sebetulnya harga per ton gas yang dihasilkan. Kajian yang sudah dibuat harus diikat sebagai wujud konsistensi,” tukas dia. (OL-2)

Sumber: www.mediaindonesia.com

  • Berita/Post
Indef Administrator
, Indef
The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta
follow me

Leave a Reply

Close