JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I/2015 melambat atau hanya tumbuh 4,7% (year on year/YoY). Pertumbuhan ekonomi periode tersebut terendah sejak 2009 yang berada di level 4,52%.
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengungkapkan, konsumsi masyarakat yang relatif rendah dibanding periode sebelumnya, menjadi salah satu sumber lambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada periode tersebut, semua komponen pengeluaran rumah tangga melambat.
“Semua komponen pengeluaran rumah tangga melambat. Hanya pengeluaran untuk makanan dan minuman, serta perumahan yang tidak melambat,” kata Peneliti Indef Ahmad Heri Firdaus di kantor Indef, Jakarta, Jumat (8/5/2015).
Dia menyebutkan, turunnya konsumsi rumah tangga tersebut disebabkan karena depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD), yang berimplikasi pada lonjakan harga barang kebutuhan pokok. Masyarakat pun terbebani dengan harga bahan bakar minyak (BBM) yang naik turun, dan di saat bersamaan tarif listrik dan gas elpiji naik.
“Ini dimanfaatkan oleh pelaku ekonomi untuk menjustifikasi setiap kenaikan harga. Itu kan komoditas yang pemerintah punya kendali mengatur harganya. Pemerintah justru tidak melakukan itu, dan ini memicu peningkatan harga lainnya,” jelasnya.
Perlambatan pertumbuhan ekonomi ini juga terjadi lantaran realisasi belanja pemerintah yang masih kecil atau hanya 2,52% dari pagu APBNP 2015. Padahal periode yang sama tahun lalu, realisasi belanja modal tembus di angka Rp12,34 triliun atau 6,69% dari pagu APBN 2014.
“‎Penyebabnya, lambatnya persiapan administrasi kelembagaan sejumlah kementerian. Seperti penggabungan kementerian, lelang jabatan. Jadi di internal sendiri yang menghambat realisasi penyerapan anggaran. Itu membuat proyek pembangunan infrastruktur tertunda,” tutur Heri.
Dari sisi ekonomi sektoral, hampir semua mengalami perlambatan. Lebih parah, perlambatan tersebut justru terjadi pada sektor tradable yang langsung memberi pengaruh nyata terhadap pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh, ekspor, hingga cadangan devisa.
“Indeks tendensi bisnis ‎juga turun. Ini kan merefleksikan bagaimana persepsi pelaku usaha untuk berjalannya ekonomi ke depan. Kalau sampai persepsi ini negatif, artinya berbagai macam paket kebijakan dan insentif yang dilakukan pemerintah ini tidak punya dampak terhadap dunia usaha kita,” jelasnya.
Kondisi ini diperparah dengan buruknya kinerja ekspor Indonesia. Meskipun neraca perdagangan pada kuartal I surplus, namun itu lebih disebabkan karena impor yang turun menjadi 15,‎1% dan bukan disebabkan oleh prestasi ekspor Indonesia.
“Ini (penurunan ekspor) implikasi dari lambatnya hilirisasi komoditas kita. Belum ada basis manufaktur yang bisa kita andalkan untuk tingkatkan ekspor,” tandas dia.
Sumber: http://ekbis.sindonews.com

Indef

The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta

Leave a Reply

Close